Ketua Lesbumi PBNU KH M Jadul Maula merilis petisi menolak tiga rancangan aturan pemerintah tentang produk tembakau. Ia menilai aturan itu mengancam jutaan petani tembakau, petani cengkeh, dan buruh industri.

KOSONGSATU.ID – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merilis petisi menolak rancangan peraturan baru tentang produk tembakau yang digodok Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan serta Kementerian Kesehatan. Petisi itu menilai aturan tersebut berpotensi mematikan ekosistem pertembakauan nasional.

Ketua Lesbumi PBNU KH M Jadul Maula menyampaikan penolakan itu di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026). Ia menyoroti tiga rancangan aturan yang dinilai sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup petani.

“Peringatan kesehatan dan informasi pada produk tembakau ini mengarah pada kemasan polos,” kata Jadul.

Ketiga draf yang ditolak meliputi Draf Peraturan Menteri Koordinator PMK tentang Batas Kandungan Nikotin dan Tar, Draf Keputusan Menteri Kesehatan tentang Bahan Tambahan yang Dilarang pada Produk Tembakau, serta Draf Kepmenkes tentang Peringatan Kesehatan dan Informasi Produk.

Amanat Muktamar Kebudayaan

Soal dasar penolakan, Jadul menyebut langkah ini merupakan amanat Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi. Forum itu meminta pemerintah kembali ke Khittah Indonesia 1945 yang bertujuan melindungi rakyat dan mewujudkan kesejahteraan umum.

“Maklumat menegaskan perlunya kajian menyeluruh terhadap kebijakan industri ekstraktif dengan mempertimbangkan aspek agama, lingkungan, sosial, budaya, dan kemanusiaan,” tambahnya.

Jadul menilai wacana pembatasan tar dan nikotin, pelarangan bahan tambahan, hingga penerapan kemasan polos justru akan menindas sumber penghidupan rakyat kecil. Lesbumi meminta pemerintah mengevaluasi ulang seluruh rancangan kebijakan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, Kemenko PMK dan Kemenkes belum memberikan tanggapan atas petisi yang dilayangkan Lesbumi PBNU.

“Regulasi negara harus hadir untuk melindungi kesejahteraan rakyat kecil, khususnya mereka yang menggantungkan hidup di sektor pertembakauan nasional,” kata Jadul.***