Pakar memperingatkan pose dua jari yang populer di media sosial berpotensi mengekspos data biometrik yang tidak bisa diganti sepanjang hidup.
KOSONGSATU.ID — Kebiasaan berswafoto dengan pose peace — dua jari telunjuk dan tengah terangkat menghadap kamera — ternyata menyimpan risiko keamanan yang kerap diabaikan: bocornya sidik jari ke tangan yang salah.
Peringatan ini kembali viral setelah pakar keuangan asal China, Li Chang, mendemonstrasikan ekstraksi sidik jari dari swafoto seorang selebriti dalam sebuah reality show yang tayang April 2026. Menggunakan perangkat lunak pengedit foto dan kecerdasan buatan (AI), gambar yang tampak buram pun bisa dipertajam hingga menghasilkan data biometrik yang dapat digunakan.
Seberapa Jauh Risiko Itu?
Li Chang menyatakan sidik jari dapat diekstrak dari foto yang diambil dalam jarak 1,5 meter jika jari menghadap langsung ke kamera. Pada jarak 1,5 hingga 3 meter, sekitar setengah detail sidik jari masih dapat dipulihkan.
Temuan ini selaras dengan penelitian National Institute of Informatics (NII) Jepang sejak 2017, yang menyimpulkan foto dari jarak hingga tiga meter pun bisa digunakan untuk merekonstruksi sidik jari — jika pencahayaan dan ketajaman gambar memadai.
Jing Jiu, profesor kriptografi dari Chinese Academy of Sciences, membenarkan bahwa proliferasi kamera resolusi tinggi membuat rekonstruksi sidik jari dari pose “V” kini secara teknis memungkinkan.
Namun, pakar keamanan Lewis Berry dari Inforcer mengingatkan bahwa ancaman ini bersifat targeted, bukan massal. Peretas tetap membutuhkan pencahayaan memadai, foto beresolusi tinggi, dan idealnya beberapa gambar dari orang yang sama untuk berhasil.
Relevansi bagi Indonesia
Isu ini menjadi lebih relevan di tengah rekam jejak kebocoran data biometrik Indonesia. Pada Juni 2024, peretas dengan nama samaran MoonzHaxor mengklaim membobol sistem Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) milik Polri dan menjual datanya di forum gelap BreachForums seharga USD 1.000.
Data yang diperjualbelikan diduga mencakup gambar sidik jari dan foto wajah anggota INAFIS. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengakui adanya kebocoran, namun menyatakan itu merupakan data lama yang tidak memengaruhi layanan aktif INAFIS.
Para ahli menekankan, sidik jari tidak seperti kata sandi yang bisa diganti jika bocor. Begitu data biometrik ini jatuh ke tangan yang salah, risikonya bisa menyentuh autentikasi keuangan, akses fisik, hingga verifikasi identitas.
Yang Bisa Dilakukan Pengguna
Li Chang menyarankan agar pengguna memburamkan atau mem-pixel bagian jari sebelum mengunggah foto ke internet. Selain itu, hindari mendaftarkan sidik jari pada perangkat yang tidak dikenal atau tidak tepercaya.
Produsen perangkat sendiri menyimpan data sidik jari secara lokal di perangkat, tidak diunggah ke cloud — sehingga peretas tidak dapat melancarkan serangan massal hanya dari foto. Untuk membobol perangkat tertentu, mereka masih butuh akses fisik ke perangkat itu sendiri.***




Tinggalkan Balasan