”Pencurian di atas 200 keping uang perak dijatuhi hukuman penggal karena dianggap telah mencapai tingkat pencurian besar,” kata Agus Sunyoto menjelaskan sanksi bagi maling kelas kakap tersebut.
Selain sanksi mati, pencurian tingkat kecil dihukum potong tangan dan tingkat menengah dipotong kaki. Ketertiban inilah yang membuat masyarakat Majapahit hidup dalam suasana gemah ripah loh jinawi yang tenteram.
Lima Janji Pemimpin Prabu
Pakar filsafat Fahruddin Faiz mengungkapkan, fondasi keberhasilan Mahapatih Gajah Mada juga ditopang oleh prinsip kepemimpinan Ponco Titi Darmaning Prabu. Ajaran ini memuat lima landasan moral utama bagi seorang pemimpin.
Prinsip tersebut mencakup handayani hanyokropurono atau memberi motivasi, serta madya hanyokrobowo yakni memberi bimbingan di tengah masyarakat. Pemimpin juga diwajibkan ngarsa hanyokrobowo atau menjadi teladan di garis depan.
Selain itu, Gajah Mada memegang teguh nirbolo wikoro yang berarti memimpin dengan wibawa tanpa mengandalkan kekerasan. “Landasan kelima adalah ngarsa dono upoyo, yakni menjadi pihak pertama yang berkorban tenaga dan pikiran demi rakyat,” kata Fahruddin menegaskan.
Mengenang warisan karakter dan ketegasan Gajah Mada dinilai krusial untuk memberantas perilaku korup para pejabat di era modern.
”Baru kami mau makan, merujuk pada prinsip bahwa pemimpin sejati harus menunda kepentingan pribadi dan kenyamanan materialnya demi kesejahteraan rakyat,” kata Syech Muchtarullah. ***
Daftar Pustaka:
- MJS Channel. “Ngaji Filsafat 316: Gajah Mada”. [Video YouTube]. Dr. Fahruddin Faiz.
- Kakawin Gajah Mada (Kesaktian dan nasihat kepemimpinan).
- Kakawin Negara Kertagama (Karya Dang Acarya Nadendra/Empu Prapanca).
- Kidung Sunda (Peristiwa Perang Bubat dan akhir hayat).
- Kitab Kutara Manawa Dharmasastra (Kitab undang-undang hukum pidana Majapahit).
- Serat Pararaton (Profil karakter dan karier Gajah Mada).
- Yamin, Muhammad. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara.




Tinggalkan Balasan