Namun, ia mengingatkan bahwa daya tarik konten tidak otomatis menjamin ketepatan isi. Menurut Cholil, masih ada materi yang dibuat AI dengan pembacaan ayat kurang fasih atau mengandung kekeliruan.

“Namun demikian, tentu isinya ya kita perlu mengkritisi, seperti bacaan ayatnya. Karena ada yang keliru juga atau kurang fasih,” kata Cholil.

Cholil mengatakan proses berguru dalam agama tidak dapat dipindahkan sepenuhnya kepada mesin. Masyarakat perlu mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas isi ceramah, sumber rujukannya, serta jalur keilmuan yang mendasari penjelasan tersebut.

“Saya pikir kalau kita berguru, tidak bisa berguru kepada AI. Harus jelas kepada siapa, termasuk pemiliknya siapa ya,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu.

MUI tidak menutup kemungkinan AI digunakan sebagai pintu awal untuk mencari informasi agama. Namun, teknologi itu perlu memiliki rujukan yang jelas dan isi materinya tetap diverifikasi oleh ulama atau guru yang dapat dimintai pertanggungjawaban.

“Kecuali memang di situ ya ada rujukan yang jelas, kemudian orangnya jelas, ya mungkin bisa dijadikan referensi,” kata Cholil.***