Akun TikTok Ustazah Hajar yang dibuat dengan kecerdasan buatan mengumpulkan jutaan pengikut. Kemenag dan MUI meminta masyarakat memeriksa materi dakwah kepada guru yang memiliki otoritas keilmuan.

KOSONGSATU.ID — Sosok “Ustazah Hajar” yang viral di TikTok memicu peringatan dari Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia. Karakter penceramah perempuan itu diketahui dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tetapi sempat dipercaya sejumlah pengguna sebagai manusia nyata.

Akun TikTok @nia.hajar_s, yang mengunggah video dakwah dengan karakter tersebut, tercatat memiliki sekitar 1 juta pengikut dan 12,1 juta tanda suka dalam pantauan pada akhir Juni 2026. Video-video itu menampilkan perempuan berhijab berbicara di depan mikrofon dengan gaya ceramah yang menyerupai pendakwah sungguhan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan kemunculan Ustazah Hajar menunjukkan teknologi digital telah masuk ke ruang syiar keagamaan. Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menerima materi yang disampaikan AI tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

“AI memang memudahkan akses informasi, tetapi karena bekerja berdasarkan algoritma dan data digital, setiap informasi yang disampaikan tetap perlu disikapi secara kritis dan ditabayunkan kepada ahlinya,” kata Thobib pada Rabu, 1 Juli 2026.

Menurut Thobib, penceramah dalam tradisi Islam tidak sekadar menyampaikan kumpulan data atau kutipan teks. Seorang mubalig memiliki proses belajar, sanad keilmuan, penjiwaan agama, serta tanggung jawab moral atas materi yang disampaikan.

Ia menilai unsur itu tidak dimiliki oleh mesin, betapapun realistis suara, wajah, dan gaya bicara yang dihasilkan teknologi kecerdasan buatan.

“AI tidak memiliki proses internalisasi ilmu maupun otoritas moral, sehingga berpotensi menghasilkan kekeliruan jika dijadikan satu-satunya rujukan,” ujar Thobib. Ia menegaskan AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru atau mubalig.

Materi Dakwah Harus Punya Penanggung Jawab

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH M Cholil Nafis, menilai tingginya minat terhadap Ustazah Hajar berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan motivasi keagamaan yang disajikan secara singkat dan relevan dengan keseharian pengguna media sosial.

Namun, ia mengingatkan bahwa daya tarik konten tidak otomatis menjamin ketepatan isi. Menurut Cholil, masih ada materi yang dibuat AI dengan pembacaan ayat kurang fasih atau mengandung kekeliruan.

“Namun demikian, tentu isinya ya kita perlu mengkritisi, seperti bacaan ayatnya. Karena ada yang keliru juga atau kurang fasih,” kata Cholil.

Cholil mengatakan proses berguru dalam agama tidak dapat dipindahkan sepenuhnya kepada mesin. Masyarakat perlu mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas isi ceramah, sumber rujukannya, serta jalur keilmuan yang mendasari penjelasan tersebut.

“Saya pikir kalau kita berguru, tidak bisa berguru kepada AI. Harus jelas kepada siapa, termasuk pemiliknya siapa ya,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu.

MUI tidak menutup kemungkinan AI digunakan sebagai pintu awal untuk mencari informasi agama. Namun, teknologi itu perlu memiliki rujukan yang jelas dan isi materinya tetap diverifikasi oleh ulama atau guru yang dapat dimintai pertanggungjawaban.

“Kecuali memang di situ ya ada rujukan yang jelas, kemudian orangnya jelas, ya mungkin bisa dijadikan referensi,” kata Cholil.***