Empat abad sebelum PDAM, Banten sudah punya water treatment plant tiga tingkat. Tanpa pompa, tanpa listrik, dan masih berdiri hingga kini, meski dunia melupakannya.


KOSONGSATU.ID — Sebelum istilah water treatment plant dikenal di Nusantara, Kesultanan Banten sudah mengoperasikan sistem pengolahan air bertingkat. Namanya bukan teknologi Eropa. Namanya Pengindelan. Ia bekerja tanpa pompa, tanpa listrik, hanya dengan gravitasi.

Mereka yang menyebut kearifan lokal sebagai takhayul perlu mendatangi Desa Margasana, Kramatwatu, Serang. Di sana, danau buatan seluas 6,5 hektare bernama Tasikardi telah berdiri sejak 1570-an. Dibangun pada masa Sultan Maulana Yusuf, sultan kedua Kesultanan Banten.

Nama Tasikardi diambil dari bahasa Sunda Kuno: tasik (danau) dan ardi (buatan). Tetapi, yang membuat danau ini lebih dari sekadar waduk hias adalah fungsinya: ia adalah hulu sebuah jaringan distribusi air bersih untuk Keraton Surosowan.

Tiga “Bunker” Penjernih, Satu Logika Sains

Air dari Tasikardi tidak langsung mengalir ke pancuran istana. Ia harus melewati tiga bangunan bata berbentuk seperti bunker. Oleh masyarakat lokal disebut pengindelan: Pengindelan Abang (merah), Putih, dan Emas.

Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, ketiganya dibangun dari pasangan bata dengan spesi campuran bata, pasir, dan kapur—adukan teknis yang disebut tras barter.

Cara kerjanya, mengutip catatan arkeolog Sonny Wibisono yang dirangkum Historia.id, sederhana tetapi cerdas: air diendapkan, lalu disaring melalui media pasir dan ijuk. Saluran ditutup selama tiga hari untuk pengendapan, kemudian dibuka.

Setiap pengindelan diperkirakan menampung 56,7–100,24 meter kubik air pada satu siklus pengolahan.

Bekerja Tanpa Pompa, Tanpa Listrik

Inilah bagian yang membuat sistem tersebut bertahan ratusan tahun: prinsip kerjanya adalah hukum fisika paling tua—gravitasi.

Tasikardi terletak sekitar dua kilometer di sebelah tenggara Keraton Surosowan, pada elevasi yang lebih tinggi. Beda ketinggian itu cukup untuk membuat air mengalir sendiri melalui jaringan pipa terakota yang ditanam di bawah tanah.

Diameter pipanya bervariasi, dari 2 sentimeter untuk distribusi kecil hingga 40 sentimeter untuk saluran utama. Tidak satupun pompa dilibatkan.

Pendekatan ini sekaligus menjawab persoalan klasik kawasan pesisir Banten: air sumur lokal tidak selalu layak untuk konsumsi keraton, sehingga pasokan harus diambil dari hulu sungai yang lebih jernih.

Cardeel dan Mitos “Eropa Datang Membawa Teknologi”

Sering dikatakan bahwa teknologi maju datang ke Nusantara bersama Eropa. Tasikardi membantah itu.

Memang, Hendrick Lucaszoon Cardeel—arsitek Belanda yang masuk Islam—dicatat sumber sejarah ikut merancang bangunan pengindelan. Tetapi, Cardeel baru tiba di Banten pada 1675, lebih dari seabad setelah Tasikardi sendiri dibangun.

Artinya, kerangka utama sistem hidraulik—danau, saluran, pipa terakota—sudah ada sebelum Cardeel datang. Yang ia kerjakan adalah pengembangan pada arsitektur perkampungan kerajaan yang sudah berdiri.

Dalam Penelitian Arkeologi Situs Tasikardi Banten Lama (1993), arkeolog Halwany Michrob menyebut sistem ini sebagai perpaduan teknologi lokal Banten dengan pengaruh Tiongkok dan Belanda—bukan sekadar transplantasi teknologi asing.

Yang Tersisa, Yang Terabaikan

Empat abad lebih kemudian, Pengindelan Emas tinggal puing. Dua pengindelan lainnya masih berdiri tetapi luput dari rute wisata utama yang biasanya berhenti hanya di tepi danau.

Seluruh kawasan termasuk dalam Situs Banten Lama yang dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010—bersama Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, dan Vihara Avalokitesvara.

Tasikardi dan tiga Pengindelan-nya adalah bukti material langka bahwa sistem distribusi air bersih bertingkat pernah dirancang di Nusantara pada abad ke-16, jauh sebelum perpipaan modern hadir di kota-kota kolonial pada akhir abad ke-19.

Pertanyaannya tinggal satu: akankah jejak ini sempat dipelajari, atau benar-benar habis dimakan waktu sebelum kita sempat membaca ulang? Datanglah ke Margasana sebelum tinggal cerita. ***


Daftar Pustaka

  1. Michrob, Halwany. (1993). Penelitian Arkeologi Situs Tasikardi Banten Lama. Serang: Balai Pelestarian Cagar Budaya.
  2. (2002). Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
  3. Taim, Eka Asih Putrina. (2001). Sistem Manajemen Air Kota Banten Lama. Jakarta: Universitas Indonesia.
  4. Data Teknis Navigasi Net. Budaya – Tasik Ardi + Pengindelan. Diakses melalui arsip data arkeologi hidrologi Banten.
  5. Catatan Sejarah Kesultanan Banten. Pembangunan Infrastruktur Masa Sultan Maulana Yusuf (1570-1580 M).