Belum ada penjelasan resmi dari Kwartir Nasional maupun kementerian terkait soal bagaimana program pendidikan kepramukaan ini disinkronkan dengan mitigasi risiko kekeringan yang sedang berlangsung. Apakah program lapangan Pramuka telah mempertimbangkan potensi krisis air di titik-titik kegiatan, atau tema besar ini sekadar simbol tanpa peta implementasi konkret, masih belum diungkap ke publik.

Konteks kekeringan ini membuat swasembada pangan bersinggungan langsung dengan tiga isu sekaligus: ketersediaan air, perlindungan lingkungan, dan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap gangguan iklim yang kian ekstrem.

Jamnas XII Menghimpun 19.833 Peserta

Bersamaan dengan Hari Pramuka ke-65, Kwartir Nasional menggelar Jambore Nasional XII di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, pada 13–20 Agustus 2026.

Kegiatan lima tahunan untuk Pramuka Penggalang ini diikuti 19.833 peserta dari 41 kontingen. Peserta berasal dari 35 kwartir daerah, gugus depan perwakilan Indonesia di luar negeri, serta sejumlah negara sahabat.

Jamnas XII membawa tema tersendiri, berbeda dari tema resmi Hari Pramuka: “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”. Kegiatan ini diarahkan pada pembentukan karakter, keterampilan hidup, teknologi tepat guna, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso menyampaikan tema Jamnas merupakan bentuk dukungan terhadap agenda swasembada pangan, energi, dan air dalam penguatan ketahanan nasional.

“Hari Pramuka bukan hanya sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan sebuah momentum untuk dapat memperkuat komitmen bersama dalam membangun karakter bangsa,” kata Budi dalam sambutan Hari Pramuka ke-65.

Ia tidak merinci lebih jauh bagaimana agenda ketahanan air itu akan dijalankan di lapangan, di tengah 535 Zona Musim yang sudah mengalami kemarau.

Kwartir Nasional berbicara soal pangan, air, dan generasi emas 2045. BMKG berbicara soal angka +2,77 dan 76,5 persen wilayah yang mengering. Yang belum bicara jelas adalah bagaimana kedua bahasa itu bertemu di lapangan.***