Konflik sektarian di Sweida meluas. Israel masuk gelanggang, jet tempurnya menghantam Damaskus. Krisis Suriah kian tak terkendali, terancam berubah jadi perang kawasan.


KOSONGSATU.ID—Suriah kembali bergolak. Setelah bentrokan berdarah antara kelompok Druze dan suku Sunni di provinsi Sweida, kini Israel ikut turun tangan. Jet-jet tempurnya menyerang langsung jantung ibu kota Damaskus.

Serangan udara itu diklaim sebagai respons atas kekerasan yang meluas di selatan Suriah. Jet Israel menargetkan markas Kementerian Pertahanan dan area dekat Istana Presiden. Satu orang tewas, 18 lainnya terluka.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut serangan ini baru permulaan. “Kami akan terus menghantam sampai pasukan rezim mundur dari wilayah itu,” tegasnya.

Ia juga memindahkan satu brigade dari Gaza ke Dataran Tinggi Golan.

Israel berdalih ingin melindungi warga Druze dan menjaga wilayah perbatasan dari milisi Islam radikal. Saat ini, sebagian zona penyangga di perbatasan Suriah yang dulu diawasi PBB telah mereka kuasai.

Konflik di Sweida sendiri dipicu oleh aksi saling culik dan serang antara kelompok Druze dan suku Bedouin Sunni. Ketika pasukan pemerintah mencoba menengahi, mereka justru bentrok dengan faksi Druze.

Gencatan senjata sempat diumumkan pada 16 Juli 2025. Namun, salah satu tokoh utama Druze, Syekh Hikmat Al-Hijri, menolaknya mentah-mentah. Ia menyebut perjanjian itu tak mewakili suara komunitasnya.

Aksi kekerasan terus berlanjut. Video pembakaran rumah, penjarahan, dan penyiksaan terhadap tokoh Druze tersebar luas. Laporan Observatorium Suriah untuk HAM mencatat lebih dari 300 orang tewas. Termasuk anak-anak. Sedikitnya 27 orang dieksekusi secara brutal di lapangan.

Warga Druze di luar negeri pun dilanda kecemasan. Seorang perempuan asal Sweida yang tinggal di Uni Emirat Arab mengaku keluarganya bersembunyi di ruang bawah tanah sambil menangis ketakutan.

Presiden Interim Suriah, Ahmad Al-Sharaa, mengecam kekerasan baik dari milisi maupun aparat pemerintah. “Ini tindakan kriminal,” ujarnya.

Sebagai informasi, komunitas Druze adalah kelompok minoritas yang berakar dari Timur Tengah, tersebar di Suriah, Lebanon, dan Israel. Ajaran mereka merupakan gabungan berbagai keyakinan, termasuk Islam, Gnostik, dan filsafat Timur. Karena ajarannya yang tertutup, mereka sering terisolasi dan menjadi korban diskriminasi.

Kini, situasi di Suriah kian tak menentu. Kekacauan pasca tumbangnya rezim Bashar Assad, konflik sektarian, dan intervensi militer dari luar memperparah kondisi.

Jika tak segera dikendalikan, krisis ini berpotensi meluas jadi perang regional yang lebih besar.***