Di tengah maraknya wacana yang menyebut Wali Songo hanya dongeng, Aguk Irawan menunjukkan jejak sejarah, manuskrip, arsitektur, hingga sanad ilmu yang menguatkan bahwa mereka benar-benar ada.


KOSONGSATU.ID—Narasi yang menyebut Wali Songo sebagai tokoh fiktif kembali ramai diperbincangkan. Pendapat ini kerap disuarakan oleh penceramah-penceramah berhaluan Islam transnasional atau liberal.

Mereka menolak pendekatan dakwah berbasis budaya seperti gamelan, wayang, dan seni tradisi lainnya yang digunakan para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Di media sosial, narasi ini makin lantang. Beberapa nama seperti Abu Yahya Badrussalam dan akun “Guru Gembul” secara terang-terangan menyebut Wali Songo tak punya bukti sejarah yang kuat.

Bagi sejarawan Nahdlatul Ulama (NU), Aguk Irawan MN, wacana semacam itu bukan saja keliru, tetapi juga mencerminkan kemunduran berpikir.

“Bukti eksistensi Wali Songo terlalu jelas untuk disangkal,” ujar pengasuh Pesantren Baitul Kilmah, Bantul, Yogyakarta, ini, Rabu (23/7).

Salah satu bukti yang ia kemukakan adalah keberadaan Kitab Asas as-Suluk, dikenal juga sebagai Primbon Sunan Bonang.

Kitab itu ditemukan di Tuban pada 1597 M, ketika Belanda mulai menancapkan koloninya di Jawa. Di dalamnya tertuang ajaran suluk yang merujuk pada karya besar Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, dan Tahmid karya Syaikh Abu Syakur al-Kasi.

Kitab ini, kata Aguk, pernah dijadikan tesis ilmiah oleh B.J.O. Schrieke, orientalis Belanda, dalam disertasi berjudul Het Boek Van Bonang yang terbit tahun 1916.

“Kalau tokohnya fiktif, lalu siapa yang menulis dan mengajarkan kitab itu? Kenapa ilmuwan Belanda harus menelitinya?” tanya Aguk retoris.

Selain manuskrip, ia juga menyebutkan bukti arsitektur, seperti inskripsi batu di Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha), Jawa Tengah.

Inskripsi itu memuat nama asli Sunan Kudus—Syaikh Ja’far Shadiq—beserta gelarnya, Syaikhul Islam dan al-Qadhi. Masjid tersebut selesai dibangun pada 28 Rajab 956 H (22 Agustus 1549 M).

Jejak lainnya dapat dilihat pada tradisi pemakaman. Aguk menjelaskan bahwa pada masa itu, hanya umat Islam yang memiliki tradisi menguburkan jenazah. Hindu dan Buddha melakukan kremasi. Maka, keberadaan makam-makam tua bercorak Islam jelas menunjukkan kehadiran dakwah Islam sejak jauh sebelum abad ke-19.

Narasi bahwa Wali Songo hanyalah mitos ini memang bukanlah isu baru. Sejarawan Agus Sunyoto (almarhum) menyebutnya sebagai warisan kolonial Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mendekonstruksi citra para wali karena metode dakwah mereka dianggap tak sejalan dengan rasionalitas Eropa.

Para wali pada zaman itu, menurut Agus Sunyoto, dicitrakan buruk dalam karya sastra pesanan kolonial. Agus mencontohkan Babad Kediri (1832) yang menggambarkan Sunan Bonang dan Sunan Giri kerasukan jin dan Serat Syekh Siti Jenar yang menuduh para wali membunuh Syekh Jenar dan mengganti jasadnya dengan bangkai anjing.

Narasi semacam itu terus berlanjut hingga era modern. Bahkan Ensiklopedia Islam terbitan 1993 tidak mencantumkan nama-nama Wali Songo, tetapi justru menonjolkan tokoh penyebar Wahabi.

Puncaknya, muncul buku Walisanga Tak Pernah Ada (2006) karya Sjamsudduha yang menyimpulkan bahwa Wali Songo hanyalah produk imajinasi.

“Padahal, selain jejak fisik dan manuskrip, kita juga punya sanad keilmuan yang sangat jelas,” tegas Aguk.

Ia lalu menjelaskan bahwa Sunan Kalijaga, atas perintah gurunya Sunan Bonang, menyadur naskah Silakrama karya Empu Prapanca menjadi Serat Dewa Ruci. Karya ini diajarkan turun-temurun:

  • kepada Sunan Bayat menjadi Nitibrata
  • kepada Ki Ageng Donopuro menjadi Swakawiku
  • kepada Kiai Hasan Besari menjadi Krama Nagara
  • hingga ke Kiai Hasyim Asy’ari yang menulis Adabul Alim wal Muta’alim

“Kalau kita pelajari, adab murid kepada guru dalam kitab Kiai Hasyim ternyata punya benang merah dengan ajaran Empu Prapanca,” jelas Aguk.

Semua itu menunjukkan bahwa Wali Songo bukan hanya tokoh sejarah, tapi fondasi kultural dan spiritual bangsa ini. “Menafikan mereka sama saja mencabut akar dari pohon peradaban kita sendiri,” pungkasnya.***