Ketiga, infrastruktur dan transportasi, pendidikan, serta ekonomi kreatif turut masuk dalam daftar kerja sama yang diperluas.

“Sebagai salah satu mitra penting di kawasan Eropa, Indonesia terus mendorong kerja sama berkelanjutan dengan Prancis,” demikian pernyataan resmi dari Sekretariat Presiden.

Poros Maritim vs Ketergantungan Energi

Di satu sisi, Indonesia terus menggaungkan visi Poros Maritim Dunia. Namun kenyataan pahitnya, negeri ini masih sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan yang sedang dilanda perang.

Kunjungan ke Prancis dan Rusia adalah langkah pragmatis. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan Timur Tengah. Diversifikasi mitra energi menjadi keharusan, meskipun harus merangkul negara-negara yang tengah berseteru dengan Barat.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa dalam pertemuan dengan Macron, Prabowo juga menyampaikan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong perdamaian dunia.

“Selain memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Prancis, Bapak Presiden juga akan menyampaikan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong perdamaian dunia,” kata Teddy.

Kata Kunci: “Ini untuk Mengamankan Minyak”

Pekan lalu, dalam pengarahan kabinet, Prabowo berterus terang kepada para menterinya. “Saudara-saudara, ini untuk mengamankan minyak; Saya harus pergi ke mana-mana.”

Kalimat itu merangkum esensi dari seluruh rangkaian perjalanan diplomatiknya. Dari Moskow ke Paris, dari Timur ke Barat, Prabowo sedang membangun benteng energi bagi Indonesia di tengah badai.

Salaman Hangat di Tengah Badai

Terlepas dari beratnya isu yang dibahas, pertemuan kedua pemimpin berlangsung hangat. Kedatangan Prabowo di Istana Élysée disambut dengan pasukan kehormatan. Macron berjalan menghampiri, keduanya berangkulan dan berjabat tangan.

Usai pertemuan tertutup, Macron menjamu Prabowo dengan santap siang. Sebuah simbol bahwa di tengah rivalitas geopolitik global, hubungan personal antarpemimpin tetap menjadi lem Perekat kerja sama antarnegara.***