Materi matematika diprioritaskan sebagai fondasi penguasaan sains dan teknologi. Adapun pembelajaran bahasa Inggris akan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang tidak menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari.
“Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, dasarnya salah satu contohnya adalah matematika,” kata Prasetyo.
Pemerintah berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk menyempurnakan materi sejarah. Perbaikan ini ditujukan agar siswa memahami perjalanan dan perjuangan bangsanya sejak dini.
Buku Digital dan Latihan Menulis
Selain memperbarui materi, pemerintah ingin buku pelajaran memiliki visual yang lebih menarik dan huruf lebih besar. Bahan buku juga akan diperbaiki agar tidak mudah rusak dan dapat digunakan kembali oleh adik kelas.
“Bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu,” ujar Prasetyo.
Versi digital buku ajar turut disiapkan agar dapat diunduh dan digunakan melalui papan interaktif digital yang telah disalurkan ke sekolah. Pemerintah berharap proses pembaruan selesai pada akhir 2026 atau paling lambat sebelum tahun ajaran berikutnya.
Pada tahun ajaran ini, pemerintah juga mulai menyiapkan sekitar 10 buku tulis bagi setiap siswa kelas I, II, dan III SD negeri. Bentuknya bervariasi, dari buku polos dan bergambar hingga buku dengan garis berukuran besar.
Buku tersebut ditujukan untuk melatih kemampuan motorik dan kebiasaan menulis tangan. Pemerintah menilai kegiatan mencatat dapat melatih ketelitian, membantu daya ingat, serta mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
Program wajib membaca dan membuat rangkuman juga akan kembali digalakkan. Prasetyo mengatakan kebiasaan tersebut diperlukan untuk membangun budaya membaca sejak usia dini.
“Itu adalah juga cara mendidik yang kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk mulai kita galakkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua,” ujar Prasetyo.***




Tinggalkan Balasan