Selain itu, Nasirun memiliki prinsip Zakat Budaya dengan menyisihkan hasil karyanya untuk kaum fakir dan guru mengaji. Budayawan Sindhunata memandang ketidakterikatan seniman ini sebagai wujud kemerdekaan.
”Menandakan bahwa dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, dengan fasilitas. Menghayati kreativitasnya dengan sendirinya,” tutur Sindhunata mengenang sosok yang penuh tawa tersebut.
Karisma Nasirun dinilai memancar kuat meski ia menolak tunduk pada sarana modern dan tren ruang digital.
”Jadi dia memang punya aura yang bahkan tidak usah tergantung pada sarana yang namanya HP,” ucap Sindhunata.***
Halaman


Tinggalkan Balasan