Maestro lukis Indonesia asal Cilacap, Nasirun, tutup usia. Mendiang dikenang sebagai seniman merdeka tanpa gawai, santri yang merawat tradisi, dan sosok sederhana dengan karya mendunia.
KOSONGSATU.ID – Pendiri Jogja Hip Hop Foundation, Marzuki Muhammad, merasa kehilangan atas kepergian seniman lukis asal Cilacap, Nasirun, yang meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026).
Mendiang berpulang dengan meninggalkan warisan karya beraliran ekspresionistik dan rekam jejak mentereng sebagai pelukis merdeka tanpa gawai.
”Pak Nasirun tidak mau terpenjara dengan hal semacam itu, dan karya-karyanya pun tetap kontekstual. Luar biasa sih,” kata Marzuki saat ditemui wartawan di rumah duka Perumahan Bayeman Permai, Sabtu.
Ihwal proses kreatif, pria yang akrab disapa Juki itu menyebut sahabatnya sering melukis sembari mendengarkan lagu berjudul Sedulur. Nasirun bahkan sempat merencanakan pameran di peternakan milik Juki.
Akar Tradisi “Santri Ucul”
Lahir dengan nama Masyhuri di Karangwangkah pada 1 Oktober 1965, ia kerap sakit-sakitan sehingga namanya diganti Nasirun. Ibunya yang beraliran Sunda Wiwitan sering mendongeng sebagai inspirasi awal karyanya.
Nasirun juga lekat dengan identitas santri Nahdlatul Ulama. Sang ayah, Ahmad, merupakan wakil atau badal tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah di bawah bimbingan KH Bustanul Karim.
Meski sukses berpameran hingga Amerika Serikat dengan lukisan bernilai miliaran rupiah, Nasirun menyebut dirinya “santri ucul” atau lepas. Ia mempraktikkan ajaran agamanya secara santai dan membumi.
Nasirun memiliki cara unik merawat kepedulian sosialnya. Mendiang bertawasul dengan membersihkan luka anak jalanan dan memandikan orang dengan gangguan jiwa hingga memberikan baju baru.
Jalan Terjal Seniman Merdeka
Sebelumnya, pelukis berjuluk “Seniman Gorengan” sejak 1997 ini menempuh jalan yang cukup terjal. Saat menempuh studi di Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta, ia terpaksa membohongi ibunya dengan alasan pergi bekerja.
Demi bertahan hidup, Nasirun mencangkul sawah untuk menanam terong ungu selama enam bulan awal. Ia kemudian beralih menjadi pelukis kain batik dan pembuat reklame bioskop sebelum menggapai titik kejayaan.
Selain itu, Nasirun memiliki prinsip Zakat Budaya dengan menyisihkan hasil karyanya untuk kaum fakir dan guru mengaji. Budayawan Sindhunata memandang ketidakterikatan seniman ini sebagai wujud kemerdekaan.
”Menandakan bahwa dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, dengan fasilitas. Menghayati kreativitasnya dengan sendirinya,” tutur Sindhunata mengenang sosok yang penuh tawa tersebut.
Karisma Nasirun dinilai memancar kuat meski ia menolak tunduk pada sarana modern dan tren ruang digital.
”Jadi dia memang punya aura yang bahkan tidak usah tergantung pada sarana yang namanya HP,” ucap Sindhunata.***


Tinggalkan Balasan