Penelitian terbaru di Liang Metanduno memperpanjang garis waktu itu. Metode penanggalan uranium-series berbasis laser digunakan untuk mengukur lapisan mineral kalsit yang tumbuh di atas pigmen gambar.
Lapisan itu bukan usia pasti gambar, melainkan batas usia minimum. Jika mineral di atas gambar telah berumur sedikitnya 67.800 tahun, maka cap tangan di bawahnya harus dibuat sebelum masa tersebut.
Temuan itu perlu dibaca secara hati-hati. Para peneliti belum dapat memastikan secara mutlak spesies manusia mana yang membuat cap tangan tersebut, meski mereka mengaitkannya dengan Homo sapiens berdasarkan bentuk, teknik, dan konteks migrasi manusia modern di kawasan Wallacea.
Namun, satu hal sudah jelas: Indonesia menyimpan bukti bahwa seni gua berkembang sangat awal di jalur kepulauan antara Asia dan Sahul, daratan purba yang dahulu menghubungkan Australia dan Papua.

Bukan Lagi Sekadar Jalur Migrasi
Selama ini, banyak narasi sejarah manusia menempatkan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara sebagai panggung utama perkembangan kebudayaan purba.
Lukisan gua di Chauvet, Prancis, misalnya, lama menjadi rujukan penting dalam pembicaraan tentang seni Paleolitik. Situs-situs di Spanyol juga kerap diposisikan sebagai bukti awal kemampuan simbolik manusia.
Temuan-temuan dari Indonesia mengubah susunan peta itu.
Sulawesi dan Kalimantan menunjukkan bahwa Asia Tenggara kepulauan bukan wilayah pasif dalam sejarah manusia. Kawasan ini merupakan ruang yang dihuni, dilintasi, dan kemungkinan besar dikembangkan oleh kelompok manusia dengan kemampuan teknis serta imajinasi yang tinggi.
Peneliti menyebut seni gua di Liang Metanduno juga penting bagi perdebatan migrasi manusia modern menuju Sahul. Kehadiran seni sangat tua di Sulawesi memperkuat kemungkinan bahwa jalur utara, dari Borneo menuju Sulawesi lalu Papua, telah digunakan manusia lebih awal dari yang selama ini dapat dibuktikan secara arkeologis.
Dalam konteks itu, Nusantara tidak hanya menyimpan tinggalan masa lalu. Ia menyimpan kepingan jalur migrasi global yang menjelaskan bagaimana manusia menyeberangi laut, menempati pulau, dan membangun kehidupan di wilayah yang tidak mudah dijangkau.
Warisan Besar Tidak Boleh Dibangun dari Klaim Rapuh
Besarnya temuan arkeologis Indonesia juga menuntut kehati-hatian dalam bercerita.





Tinggalkan Balasan