Ahli gizi memastikan santan tidak memicu kolesterol selama proses pengolahannya benar dan tidak berlebihan.


KOSONGSATU.ID – Hidangan khas Ramadan seperti kolak pisang dan bubur sumsum sering kali menjadi “musuh” bagi mereka yang mengkhawatirkan kadar kolesterol. Namun, ahli gizi membawa kabar baik: kita bisa menyantap santan dengan aman saat berbuka asalkan mengolahnya dengan teknik yang benar.

Bukan Santannya, Tapi Cara Masaknya

Selama ini orang menuding santan sebagai penyebab utama lonjakan kolesterol jahat. Padahal, santan secara alami mengandung asam lemak rantai sedang ($MCT$) yang lebih mudah tubuh serap menjadi energi.

Masalah kesehatan muncul bukan karena kandungan alami santan, melainkan karena dua kesalahan fatal dalam pengolahannya:

  1. Memasak Hingga Mendidih Terlalu Lama: Suhu panas yang ekstrem dalam waktu lama dapat mengubah struktur lemak sehat dalam santan menjadi lemak jenuh yang berbahaya.

  2. Pemanasan Berulang: Memanaskan kembali sisa kolak atau hidangan bersantan akan memicu oksidasi lemak yang meningkatkan risiko kolesterol dan radikal bebas.

Ilustrasi tips memasak santan aman dan sehat. – AI Generate

Tips Menyiapkan Takjil Santan yang Sehat

Agar tetap bisa menikmati manisnya berbuka tanpa rasa waswas, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis berikut:

  • Masukkan santan terakhir: Rebus bahan lain (pisang, ubi, gula merah) hingga matang, lalu tambahkan santan sesaat sebelum mematikan api.

  • Jangan Sampai “Pecah”: Aduk terus santan dan jangan biarkan mendidih terlalu lama hingga mengeluarkan minyak.

  • Masak porsi sekali habis: Hindari memasak dalam jumlah besar agar Anda tidak perlu menyimpan dan memanaskan hidangan berkali-kali.

“Santan adalah sumber energi yang baik setelah seharian berpuasa. Kuncinya adalah menjaga agar nutrisinya tidak rusak akibat suhu panas yang berlebihan,” ujar salah satu pakar nutrisi.

Dengan memahami cara pengolahan yang benar, masyarakat tidak perlu lagi menghindari hidangan tradisional bersantan secara berlebihan. Ramadan tetap bisa dirayakan dengan lezat sekaligus sehat, asalkan kita lebih bijak dalam menyiapkan apa yang tersaji di meja makan.***