Jalur migrasi ratusan juta burung di Timur Tengah secara tidak sengaja mengacaukan sistem radar pertahanan udara Israel.


KOSONGSATU.ID–Wilayah udara Israel merupakan urat nadi perjalanan panjang ratusan juta burung yang bermigrasi setiap musim semi dan musim gugur. Jalur migrasi di Great Rift Valley ini dilewati lebih dari 500 juta ekor burung dari Eropa dan Asia menuju Afrika.

Ancaman dari pesawat nirawak atau drone kamikaze memaksa militer Israel menyetel radar ke tingkat kepekaan paling tinggi. Ukuran tubuh burung migran seperti elang dan bangau yang cukup besar kerap mengecoh sensor deteksi, membuat sistem pertahanan kesulitan membedakan burung dengan drone pembawa bahan peledak.

Rudal Pencegat Meluncur Tanpa Sasaran

Salah identifikasi ini memicu konsekuensi merugikan bagi keuangan negara. Sistem secara otomatis memerintahkan peluncuran rudal pencegat setiap kali burung melintas dalam formasi besar. Jutaan dolar anggaran militer pun menguap begitu saja di udara.

Pakar Ornitologi Tel Aviv University, Yossi Leshem, angkat bicara mengenai fenomena ironis ini.

“Rudal-rudal yang harganya jutaan dolar AS, dibuang sia-sia untuk menembak burung-burung yang terdeteksi sebagai drone-drone penyerang,” kata Yossi, seperti dikutip Republika, Sabtu (14/3/2026).

Ancaman Tak Terduga bagi Pertahanan Udara

Laporan Middle East Eye menyebut insiden ini masuk dalam kategori ancaman tak terduga. Tingginya volume burung yang melintas hampir setiap hari selama musim migrasi memperparah kerugian.

Insiden salah tembak ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi teknisi militer Israel. IDF dituntut segera merancang ulang sistem kecerdasan buatan mereka agar tidak lagi tertipu oleh satwa bersayap di masa depan.***