Di tengah kegaduhan zaman yang bergerak cepat, sebuah dialog budaya di jantung ingatan nasional mengajak Indonesia berhenti sejenak—untuk menoleh ke belakang, lalu melangkah ke depan dengan lebih sadar.


KOSONGSATU.ID—Memperingati hari jadinya yang ke-36, Yayasan Anand Ashram menyelenggarakan Dialog Budaya bertajuk Manusia Indonesia Jaya: Meretas Jalan Kembali ke Jati Diri Bangsa melalui Siksa Kandang Karesian di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Acara ini bukan sekadar seremoni ulang tahun, melainkan ruang refleksi kolektif—sebuah upaya merawat ingatan, sekaligus menafsir ulang kebijaksanaan leluhur agar tetap relevan bagi masa kini.

Ketua Yayasan Anand Ashram, Joehanes Budiman, membuka dialog dengan nada yang tegas namun tenang. Ia mengingatkan bahwa masa lalu tidak semestinya diperlakukan sebagai museum yang beku.

“Nilai-nilai dalam Siksa Kandang Karesian bukan untuk disimpan di rak sejarah,” ujarnya, “tetapi untuk dihidupkan kembali dalam kesadaran dan tindakan kita hari ini.” Di titik ini, kebijaksanaan leluhur diposisikan bukan sebagai romantisme, melainkan sebagai perangkat etis untuk menjawab tantangan zaman.

Rumah Memori Bangsa

Sambutan Kepala Perpusnas RI yang dibacakan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Yeri Nurita, menegaskan makna simbolik lokasi acara. Perpusnas, katanya, adalah “rumah memori bangsa”—tempat di mana ingatan kolektif disimpan, dirawat, dan ditafsir ulang.

Ia mengingatkan bahwa Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Pengakuan ini, menurutnya, menandakan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah tersebut melampaui batas lokal dan memiliki relevansi universal. Di dalamnya, konsep Dharma hadir sebagai kompas hidup—penunjuk arah menuju kejernihan batin dan kebijaksanaan, atau karesian.

Etika Lama, Tantangan Baru

Sejarawan dan Profesor Riset BRIN Asvi Warman Adam menjadi narasumber utama dalam dialog ini. Dengan gaya analitis khasnya, Asvi menautkan ajaran Siksa Kandang Karesian dengan realitas Indonesia kontemporer. Ia menyoroti nilai Asteya—larangan mengambil hak orang lain—sebagai prinsip etis yang terasa sederhana, namun kerap absen dalam praktik keseharian.

Jika nilai ini dijalankan secara konsisten, Asvi menilai, ia dapat menjadi fondasi kebangkitan bangsa. Bukan melalui jargon besar, melainkan lewat disiplin moral yang konkret. Dalam konteks inilah teks kuno itu menemukan relevansi barunya: sebagai cermin yang memantulkan wajah Indonesia hari ini, lengkap dengan kekurangannya.

Dari Stigma ke Tantangan Kultural

Perspektif lain datang dari ranah psikologi sosial dan hak asasi manusia. Niniek L. Karim bersama Haris Azhar mengajak peserta meninjau ulang kritik Mochtar Lubis tentang karakter manusia Indonesia. Kritik itu, menurut mereka, kerap berhenti sebagai stigma—label yang diulang tanpa upaya transformasi.

Keduanya mendorong agar ciri-ciri tersebut dibaca sebagai tantangan kultural, atau dalam bahasa kekinian, skill set yang perlu ditumbuhkembangkan. Transformasi sosial, kata mereka, tidak lahir dari penyangkalan, melainkan dari keberanian mengakui kelemahan dan menumbuhkan nilai-nilai luhur yang memang telah hidup di Nusantara.

Kejernihan Batin dan Visi Jangka Panjang

Nada reflektif semakin menguat ketika Engkus Ruswana, Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), mengambil giliran. Ia melihat Sanghyang Siksa Kandang Karesian sebagai peta transformasi diri—yang berangkat dari kejernihan batin, kejujuran, tanggung jawab, dan visi jangka panjang. Bagi Engkus, teks ini bukan sekadar bacaan, melainkan tuntunan praksis.

Apresiasi terhadap dimensi praksis ini juga disampaikan I Gusti Putu Sudarta, dalang dan dosen ISI Bali, yang sebelumnya mengulas buku Sanghyang Siksa Kandang Karesian: Menjadi Manusia Visioner. Menurutnya, naskah tersebut ibarat mata kuliah dasar kehidupan. Ia tidak cukup dibaca dengan pikiran, tetapi harus ditembus dengan hati—melampaui logika menuju penghayatan.

Trikaya Parisuda dan Krisis Identitas

Dimensi spiritual dialog ini diperdalam oleh Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, sulinggih dari Tanah Sunda. Ia menegaskan bahwa seorang resi—atau manusia visioner—adalah mereka yang mampu menjalankan Trikaya Parisuda: berpikir, berkata, dan bertindak mulia, apa pun profesinya.

Dalam refleksinya, Ida Pandita menyoroti krisis identitas bangsa yang, menurutnya, telah berlangsung ratusan tahun. Budaya luhur kian terpinggirkan, digantikan pesona budaya luar yang tak selalu selaras dengan jati diri bangsa. Siksa Kandang Karesian, katanya, mengajarkan perilaku nyata, bukan sekadar wacana. Ia menuntut keteladanan, bukan transaksi; pengabdian, bukan komersialisasi.

Belajar Pulang

Dari rangkaian paparan itu, satu benang merah mengemuka: perubahan tidak datang dari luar, melainkan dari keberanian menata diri. “Kekuatan itu ada di dalam diri kita,” demikian pitutur Jangka Jayabaya yang digaungkan kembali. Kekuatan untuk mengubah diri—dan pada akhirnya, mengubah zaman.

Sebagai informasi, naskah Siksa Kandang Karesian telah ditranskreasi oleh Anand Krishna dan diterbitkan oleh Yayasan Anand Ashram pada 2025 dengan judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian: Menjadi Manusia Visioner. Di tengah dunia yang terus bergerak, dialog ini seolah mengingatkan: untuk melaju jauh, bangsa ini perlu tahu ke mana ia pulang.***