Para filsuf Stoa selalu mengingatkan tentang “Dikotomi Kendali”. Di dunia ini, ada hal-hal yang sepenuhnya bisa kita atur, dan ada raksasa-raksasa eksternal yang di luar kendali kita.

BI bertindak layaknya seorang penganut Stoa. Mereka sadar ada dinamika global di luar kendali kita—seperti konflik geopolitik, perang dagang, dan kebijakan bank sentral negara adidaya. Angka 5,7 persen adalah angka rasional setelah memasukkan faktor “di luar kendali” tersebut. BI menjaga stabilitas, menjadi benteng.

Sebaliknya, pemerintah memegang fungsi dorongan dan motivasi. Seperti yang sering diurai oleh Albert Camus tentang absurditas manusia: kita selalu merindukan hal yang ideal. Target ekonomi pemerintah yang tinggi adalah bentuk dari elan vital, sebuah harapan untuk menggerakkan masyarakat. 

Jadi, ini bukan soal siapa yang benar atau salah. Pemerintah menekan gas ekspektasi, dan BI bersiap dengan rem realitas.

Ngelmu Iku Ngelakoni: Berhenti Berdebat, Mulai Bertindak

Kelemahan kita hari ini adalah terlalu asyik mengunyah angka dan berdebat wacana. 

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan bahaya “Ekonomi tanpa Moralitas” (Commerce without Morality), sementara dalam kearifan Jawa, kita mengenal prinsip Ngelmu Iku Ngelakoni. Kebenaran atau target setinggi apa pun baru bermakna kalau mewujud dalam tindakan nyata.

Jika kita ingin ekonomi tumbuh—entah itu di angka 5,7 persen atau lebih—yang dibutuhkan bukanlah perdebatan retoris di atas panggung politik, melainkan etika kerja yang nyata di lapangan.

Kita bisa belajar dari prinsip etika ekonomi masyarakat Jepang. Target ekonomi hanya bisa dicapai jika aparatur negara dan masyarakatnya mempraktikkan Kenyaku (hidup efisien, tidak menghamburkan anggaran negara untuk hal mubazir), Shoujiki (jujur dan transparan dalam tata kelola, menjauhi korupsi), serta Kimben (kerja keras dan peningkatan produktivitas yang berkesinambungan).

Berpijak di Bumi

Kesimpulannya, proyeksi BI di angka 5,7 persen bukanlah kiamat kecil yang harus diratapi, bukan pula bentuk pesimisme. Angka tersebut adalah panduan pijakan bumi agar kita melangkah dengan lebih mawas diri.