Pesan abadi Sang Putra Fajar kini bergema lebih nyaring di era disrupsi: tanpa memegang teguh jati diri, kita hanya akan menjadi “bangsa fotokopi” yang kehilangan orisinalitas di tengah seragamnya budaya global. Kita diingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan akar, dan menjadi bagian dari dunia tidak berarti harus larut dalam arus bangsa lain.
Indonesia harus terus berdiri sebagai pembawa obor—bukan sebagai peminta-minta di emperan peradaban, melainkan sebagai bangsa yang percaya diri dengan Pancasila di satu tangan dan kedaulatan di tangan lainnya. Sebagaimana sejarah mencatat langkahnya, biarlah jati diri kita tetap menjadi kompas yang memastikan bahwa meski dunia berubah rupa, Indonesia tetaplah Indonesia: kokoh berakar pada tradisi, berani menjulang membangun dunia kembali.
Pada akhirnya, jati diri bukanlah sebuah artefak yang kita simpan di museum sejarah, melainkan ‘nyawa’ yang harus terus kita embuskan dalam setiap kebijakan dan perilaku bangsa. Di tengah dunia yang kian seragam, mari kita ingat pesan Sang Putra Fajar: tetaplah menjadi Indonesia yang berakar pada bumi sendiri, agar kita tak sekadar menjadi butiran debu, melainkan menjadi karang yang kokoh di tengah badai globalisasi.***



Tinggalkan Balasan