Madilog Tan Malaka hadir sebagai penawar dari racun budaya instan, mengajarkan Gen Z untuk memahami proses di balik setiap fenomena sosial.

KOSONGSATU.ID — Di linimasa media sosial hari ini, semuanya tampak terjadi dalam sekejap mata. Seorang pembuat konten bisa mendadak viral dan sukses finansial hanya dari satu video berdurasi singkat.

Sebuah tren atau merek lokal bisa langsung meledak populer di pagi hari, lalu meredup dan terlupakan total pada malam harinya. Kecepatan ini membentuk mentalitas baru di kalangan generasi muda: persepsi bahwa segala hal di dunia ini bisa terjadi secara serba instan, tanpa proses, dan muncul begitu saja dari ruang hampa.

Namun, benarkah dunia bergerak sesederhana itu? Ketika kita hanya melihat hasil akhir seperti kesuksesan seorang pemengaruh atau meledaknya suatu fenomena sosial, kita sedang terjebak dalam cara pandang yang statis.

Di sinilah Dialektika, pilar ketiga dari filsafat Madilog yang dirumuskan oleh Tan Malaka, hadir sebagai penawar dari racun budaya instan. Bagi Tan Malaka, dialektika bukanlah sekadar istilah berat yang berdebu di perpustakaan filsafat. Secara sederhana, Dialektika adalah ilmu tentang perubahan dan pergerakan yang lahir akibat adanya pertentangan.

Tan Malaka menegaskan bahwa tidak ada satu pun hal di alam semesta ini—baik benda fisik maupun fenomena sosial—yang bersifat abadi, diam, atau berdiri sendiri. Semua hal selalu berada dalam proses pergerakan, perubahan, dan perkembangan terus-menerus.

Dunia fisik dan dunia sosial tidak pernah statis. Untuk menjelaskan hal ini, Tan Malaka menggunakan contoh transisi air menjadi uap dalam sains. Air tidak mendidih dan berubah menjadi uap secara instan. Ada proses akumulasi panas yang terus-menerus bertentangan dengan suhu dingin air, hingga mencapai titik didih 100°C, lalu terjadi lonjakan perubahan bentuk menjadi uap.

Membongkar Mitos Kesuksesan Instan dan Melihat Perubahan dari Multi-Sudut Pandang

Dalam konteks sosial, evolusi sistem masyarakat dari masa perbudakan, feodalisme, hingga kapitalisme terjadi bukan karena kebetulan. Setiap sistem runtuh akibat pertentangan internal di dalam sistem itu sendiri yang melahirkan bentuk masyarakat baru.

Budaya instan di internet mendidik kita untuk mengabaikan proses. Kita melihat seseorang membeli rumah di usia muda dan langsung merasa tertinggal, mengira kesuksesan tersebut adalah keajaiban yang terjadi dalam semalam.

Kacamata Dialektika mengajak kita membongkar ilusi ini. Sebuah kesuksesan yang tular atau perubahan sosial yang besar selalu memiliki akar historis dan kompleksitas proses di belakangnya.

Ada akumulasi uji coba, kegagalan, kondisi sosial-ekonomi yang mendukung, serta hukum pertentangan yang melatarbelakanginya. Menolak budaya instan berarti melatih diri kita untuk tidak silau pada hasil akhir, selalu mempertanyakan bagaimana sesuatu bisa terjadi, serta menghargai dinamika proses sebagai bagian alami dari akumulasi perubahan.

Dalam dunia digital yang terpolarisasi, orang kerap terjebak dalam sudut pandang tunggal saat merespons isu publik. Dialektika mengajarkan kita untuk melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang.

Dalam dialektika pada Juli 2026 ini, sebuah argumen atau kondisi selalu melahirkan pertentangan. Dari benturan kedua hal inilah lahir pemahaman baru yang lebih matang.

Ketika melihat fenomena sosial seperti polemik aturan baru di media sosial, anak muda yang berpandangan dialektis tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan sepihak. Mereka membedah akar masalahnya secara historis, melihat kepentingan materi yang bertentangan, dan menyadari bahwa tren hari ini bisa usang karena dinamika zaman.

Dengan memegang pilar Dialektika dari Madilog, generasi muda diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif dari hasil akhir yang disajikan algoritma. Pahamilah prosesnya, petakan pertentangan masalahnya, lihat dari berbagai sudut pandang, dan sadarilah bahwa Anda memiliki peran untuk ikut menggerakkan perubahan tersebut.***