Siswa SMK Kudus rela serahkan jatah makan gratisnya demi kesejahteraan guru. Bukti cinta untuk pahlawan tanpa tanda jasa.
KOSONGSATU. ID – Di tengah gegap gempita pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah kisah mengharukan lahir dari ruang kelas SMK NU Miftahul Falah, Kudus, Jawa Tengah.
Muhammad Rafif Arsya Maulidi, seorang siswa kelas XI, memilih jalan yang tak biasa. Ia tidak menanti jatah makanan lezat tersebut, melainkan justru menulis sepucuk surat kepada Presiden Prabowo Subianto.
Permintaannya sungguh menyentuh nurani: ia memohon agar pemerintah mengalihkan jatah makan siangnya untuk menambah kesejahteraan para guru.
Surat Sederhana Berisi Cinta yang Luar Biasa
Langkah Rafif membuktikan kedewasaan yang melampaui usianya. Ia sengaja menolak manfaat MBG bukan karena tidak butuh, melainkan karena rasa empatinya yang jauh lebih besar.
Ia melihat langsung bagaimana guru-gurunya mengajar dengan penuh dedikasi setiap hari, meski kesejahteraan yang mereka terima masih jauh dari kata layak.
“Jika memungkinkan, saya mohon dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat bapak alihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” tutur Rafif pada Kamis malam, 2 April 2026.

Lahir dari Keluarga Sederhana, Tumbuh Membawa Jiwa Mulia
Menariknya, Rafif bukanlah anak dari keluarga yang bergelimang harta. Ayahnya memeras keringat sebagai buruh, sementara sang ibu dengan setia mengurus rumah tangga. Namun, didikan orang tuanya berhasil mengukir akhlak mulia di dalam dada pemuda ini.
Orang tua Rafif selalu menanamkan nilai untuk menghormati setiap sosok yang berjasa dalam hidup. Bagi pemuda ini, guru menempati posisi istimewa setelah kedua orang tuanya.
Keikhlasan sang guru dalam mendidik membuatnya tak tega menikmati fasilitas negara ketika pahlawan tanpa tanda jasanya masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Rp 6,75 Juta yang Jauh Lebih Berharga
Pemuda ini tidak asal bicara. Ia bahkan sudah menghitung dengan saksama nilai manfaat yang akan ia lepaskan. Dengan sisa waktu belajar sekitar satu setengah tahun di SMK, Rafif mengkalkulasi jatahnya secara sederhana.




0 Komentar