Kementan menggabungkan intervensi jangka pendek berupa pasokan beras, benih padi-jagung, alsintan dan pompa dengan pengembangan kelapa, kakao, serta jambu mete. Pemerintah memperkirakan 10 ribu hektare dapat menjadi sumber pendapatan bagi 10 ribu keluarga atau sekitar 40 ribu orang.
KOSONGSATU.ID — Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan sedikitnya 10 ribu hektare tanaman perkebunan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari intervensi pemerintah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan menekan kemiskinan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan tanaman jangka panjang yang akan didorong antara lain kelapa, kakao, dan jambu mete. Komoditas tersebut dipilih karena dinilai sesuai dengan kondisi agroklimat Alor dan diharapkan menjadi sumber penghasilan masyarakat dalam jangka panjang.
Target 10 ribu hektare itu disampaikan Amran saat melakukan kunjungan kerja ke Alor, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut perhitungan pemerintah, apabila setiap satu hektare dikelola oleh satu keluarga, program tersebut dapat menyediakan sumber penghasilan bagi sekitar 10 ribu keluarga.
Dengan asumsi setiap keluarga terdiri atas empat orang, Kementan memperkirakan sekitar 40 ribu warga dapat merasakan manfaat ekonomi dari pengembangan tersebut. Angka 40 ribu merupakan proyeksi berdasarkan asumsi tersebut, bukan jumlah penerima yang telah terverifikasi.
“Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektare di Alor. Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan,” kata Amran.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi dua jalur Kementan di Alor. Pemerintah menyiapkan intervensi pangan dalam jangka pendek sekaligus pengembangan komoditas perkebunan untuk menopang pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.
Berawal dari Aspirasi Mahasiswa Alor
Kunjungan Amran ke Alor bermula dari aspirasi yang disampaikan mahasiswa asal daerah tersebut, Adriano Padama, saat Menteri Pertanian memberikan kuliah umum di Universitas Diponegoro, Semarang, Kamis, 6 Agustus 2026.
Adriano menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Alor, mulai dari harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk mengembangkan pertanian.
Amran kemudian membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan berangkat ke Alor untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Setibanya di daerah tersebut, ia meninjau sejumlah lokasi serta berdialog dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Dari kunjungan itu, Kementan menempatkan pertanian sebagai salah satu instrumen untuk menekan kemiskinan di Alor.
Namun, target 10 ribu hektare tidak seluruhnya diarahkan untuk tanaman pangan. Kementan membedakan intervensi jangka pendek melalui padi dan jagung dengan program jangka panjang berupa pengembangan kelapa, kakao, dan jambu mete.
Beras Sempat Dilaporkan Rp25 Ribu–Rp30 Ribu
Persoalan pangan menjadi bagian lain dari intervensi pemerintah.
Amran mengatakan pemerintah ingin harga beras di Alor berada di kisaran Rp13 ribu, atau setara dengan harga yang ia jadikan pembanding di Jakarta.
Ia meminta Bulog menjaga ketersediaan stok dan melakukan operasi pasar apabila diperlukan.
Amran juga menyinggung adanya masyarakat yang sebelumnya membeli beras dengan harga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Pemerintah ingin disparitas harga tersebut tidak kembali terjadi.
Selain memastikan pasokan beras, Kementan menyiapkan benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian atau alsintan, serta pompa.
Pompa terutama akan digunakan untuk mendukung pengolahan lahan yang memiliki sumber air.
Dalam kunjungan tersebut, Amran juga menambah dukungan alsintan dan pompa setelah menerima masukan mengenai kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat. Namun, jumlah unit tambahan yang akan diberikan belum diperinci dalam keterangan yang dipublikasikan.
37.338 Penerima Dapat Bantuan Beras
Intervensi jangka pendek juga berjalan melalui penyaluran bantuan pangan pemerintah.
Bulog mencatat bantuan pangan untuk Alor dialokasikan kepada 37.338 penerima bantuan pangan (PBP) untuk periode Juli, Agustus, dan September 2026.
Masing-masing keluarga memperoleh total 30 kilogram beras untuk alokasi tiga bulan tersebut.
Penyaluran antara lain dilakukan kepada 66 PBP di Desa Fuisama, 513 PBP di Desa Probur, serta 222 PBP di Desa Lembur Barat.
Dengan demikian, intervensi pemerintah di Alor berjalan melalui dua skema berbeda. Dalam jangka pendek, pemerintah menggunakan bantuan beras, stabilisasi pasokan, benih padi-jagung, alsintan, dan pompa. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pengembangan sedikitnya 10 ribu hektare kelapa, kakao, jambu mete, dan tanaman yang dinilai sesuai dengan kondisi daerah.
Sejumlah detail program 10 ribu hektare masih belum diumumkan, antara lain lokasi dan status lahan, pembagian luas untuk masing-masing komoditas, kebutuhan anggaran, jadwal penanaman, mekanisme penetapan petani penerima, sumber benih, serta target produksi dan pendapatan per hektare.
Detail tersebut menjadi penting karena klaim manfaat bagi 10 ribu keluarga atau sekitar 40 ribu warga masih berupa proyeksi berdasarkan asumsi satu keluarga mengelola satu hektare, bukan data penerima program yang telah ditetapkan.***






Tinggalkan Balasan