Adriano menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Alor, mulai dari harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk mengembangkan pertanian.

Amran kemudian membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan berangkat ke Alor untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Setibanya di daerah tersebut, ia meninjau sejumlah lokasi serta berdialog dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

Dari kunjungan itu, Kementan menempatkan pertanian sebagai salah satu instrumen untuk menekan kemiskinan di Alor.

Namun, target 10 ribu hektare tidak seluruhnya diarahkan untuk tanaman pangan. Kementan membedakan intervensi jangka pendek melalui padi dan jagung dengan program jangka panjang berupa pengembangan kelapa, kakao, dan jambu mete.

Beras Sempat Dilaporkan Rp25 Ribu–Rp30 Ribu

Persoalan pangan menjadi bagian lain dari intervensi pemerintah.

Amran mengatakan pemerintah ingin harga beras di Alor berada di kisaran Rp13 ribu, atau setara dengan harga yang ia jadikan pembanding di Jakarta.

Ia meminta Bulog menjaga ketersediaan stok dan melakukan operasi pasar apabila diperlukan.

Amran juga menyinggung adanya masyarakat yang sebelumnya membeli beras dengan harga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Pemerintah ingin disparitas harga tersebut tidak kembali terjadi.

Selain memastikan pasokan beras, Kementan menyiapkan benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian atau alsintan, serta pompa.

Pompa terutama akan digunakan untuk mendukung pengolahan lahan yang memiliki sumber air.

Dalam kunjungan tersebut, Amran juga menambah dukungan alsintan dan pompa setelah menerima masukan mengenai kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat. Namun, jumlah unit tambahan yang akan diberikan belum diperinci dalam keterangan yang dipublikasikan.

37.338 Penerima Dapat Bantuan Beras

Intervensi jangka pendek juga berjalan melalui penyaluran bantuan pangan pemerintah.

Bulog mencatat bantuan pangan untuk Alor dialokasikan kepada 37.338 penerima bantuan pangan (PBP) untuk periode Juli, Agustus, dan September 2026.