Ekskavasi di Tapanuli Tengah menyingkap koin Umayyah hingga kemudi kapal kuno. Temuan ini membuktikan jalur niaga abad ke-7 yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah.

KOSONGSATU.ID – Arkeolog senior Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Ery Soedewo, mengungkap rentetan temuan artefak bersejarah di Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Temuan ini menegaskan kawasan pantai barat Sumatera sebagai simpul penting perdagangan global sejak abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.

“Pada 2001 itu kami melakukan survei arkeologis di wilayah administrasi Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” kata Ery, berdasarkan rangkuman Hubungan Masyarakat BRIN dari siaran Indonesiana TV, Rabu, 15 Juli.

Arca peninggalan masa Hindu abad ke-9 hingga ke-10 Masehi tersebut teridentifikasi sebagai Dewa Ganesa. Ery menyebutkan kondisi patung saat diteliti sudah terpecah menjadi kepingan kecil karena ulah warga yang tergiur isu adanya emas dan berlian di dalam arca.

Jejak Perdagangan Lintas Benua

Sebelumnya, riset intensif di Bongal sempat terhenti dan baru dilanjutkan pada 2019. Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah kala itu meminta bantuan BRIN untuk meneliti barang-barang kuno yang tak sengaja ditemukan masyarakat saat menambang emas.

Warga mendapati kepingan koin, pecahan keramik, gerabah, hingga manik-manik. Ery secara khusus menyoroti temuan koin dari era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah dari abad ke-9, serta keramik bermotif bunga masa Dinasti Tang asal Cina.

“Hal yang menarik juga dari temuan masyarakat itu mereka menemukan papan-papan perahu kuno. Setelah saya baca, itu karakter aksara Palawa Granta,” tuturnya.

Sampel kayu tersebut kemudian dikirim ke laboratorium di Amerika Serikat untuk pengujian pertanggalan. Hasilnya menunjukkan kayu tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, sejalan dengan perkiraan usia artefak lainnya.

Selain itu, intensitas penelitian yang makin tinggi pada 2021 membuahkan temuan struktur kemudi kapal kayu. Tim arkeolog mendapati kemudi yang utuh dengan variasi panjang 2,5 meter hingga 4,5 meter.

Jalur Rempah dan Pulau Emas

Ihwal sisa bahan alami atau ekofak, peneliti menemukan sisa gading, biji hanjeli, dan biji pala di sekitar lokasi penggalian. Keberadaan pala yang identik dengan Kepulauan Maluku mengindikasikan adanya rute perniagaan yang sudah menghubungkan timur dan barat Nusantara sejak masa lampau.

Wilayah Bongal pada masanya merupakan daerah yang tanahnya mengandung emas, sehingga kerap dijuluki Pulau Emas atau Suarna Dwipa. Daya tarik niaga kawasan ini juga didukung oleh keberadaan aneka pohon penghasil resin yang bernilai tinggi pada masanya.

“Dari hasil identifikasi jenis-jenis getah resin yang ditemukan dari hasil galian ekskavasi, Bongal memiliki komoditas utama antara lain kafur, kemenyan, dan getah damar,” ujar Ery.***