Permintaan Dunia Tak Kita Sambut
Menurut Volza, sepanjang tahun lalu Indonesia hanya mengirim 11 kali pengapalan minyak gaharu. Padahal pasar oud global kini bernilai lebih dari USD323 juta dan diproyeksikan menyentuh USD522 juta pada 2032.
Kita ekspor kayu mentah ke Timur Tengah, lalu impor balik parfum jutaan rupiah. Ironis. Alih-alih jadi pemain utama, kita puas jadi penyedia bahan baku murah.
Punya Bahan Mewah, Tapi Tak Punya Brand
Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia pada 2022 tercatat USD172,9 juta. Tapi mayoritas berasal dari bahan mentah: gaharu, cendana, kayu putih, hingga akar wangi.
Hilirisasi masih jauh panggang dari api. Menurut Kementerian Pertanian, Indonesia justru mengimpor produk olahan parfum dan kosmetik. Kita jual murah, lalu beli mahal. Padahal bahan dasarnya milik kita.
Kelestarian Gaharu Terancam, Inovasi Tak Tersentuh
Produksi resin gaharu tidak mudah. Hanya 7 persen pohon yang bisa menghasilkan resin alami. Sisanya butuh teknik inokulasi. Tanpa pengelolaan, gaharu bisa punah. Bahkan, Aquilaria malaccensis kini masuk daftar CITES Appendix II dan IUCN Red List.
Politeknik Negeri Lhokseumawe sudah mengembangkan sistem penyulingan berbasis tenaga surya. Tapi seperti banyak inovasi di Indonesia, hasil risetnya belum masuk industri.
Saatnya Kita Bangun Industri Parfum Sendiri
Indonesia tidak kekurangan pohon gaharu. Yang kurang adalah keberanian membangun industri parfum nasional. Kita bisa punya merek seperti
“Harum Nusantara” atau “Oud Indonesia” yang sejajar dengan Dior atau Roja di butik Paris.
Kita bisa ekspor bukan lagi kayunya, tapi cerita, warisan, dan aroma dari rimba kita. Harumnya harus pulang ke rumah—disuling di tanah sendiri, dikenakan dengan bangga, dan dijaga agar tetap lestari.***




Tinggalkan Balasan