Presiden AS Donald Trump mengejek Mohammed bin Salman di depan forum bisnis Saudi, hanya dua hari setelah menyebutnya sebagai sosok “pendekar”.


KOSONGSATU.ID — Dunia diplomasi internasional kembali diguncang oleh pernyataan provokatif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam pidatonya di forum Future Investment Initiative di Miami, Jumat (27/3/2026), Trump melontarkan ejekan kasar yang menyasar Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Trump mengklaim bahwa pemimpin de facto kerajaan tersebut kini berada dalam posisi yang harus “tunduk” kepadanya. Pernyataan ini dinilai sangat ganjil karena disampaikan langsung di hadapan audiens dan investor asal Saudi yang mendanai forum tersebut.

“Dia tidak kira dia akan mencium pantatku. Sungguh tidak. Dan sekarang dia harus bersikap baik kepadaku. Dia sebaiknya bersikap baik kepadaku,” ujar Trump dalam pidatonya yang mengejutkan banyak pihak.

 

View on Threads

 

Kontradiksi Sikap dalam 48 Jam

Sikap Trump ini menunjukkan inkonsistensi yang tajam. Pasalnya, hanya dua hari sebelumnya, pada Rabu (25/3/2026), ia justru memuji MBS sebagai seorang “pendekar” yang berdiri bersama Amerika Serikat dalam konfrontasi melawan Iran.

Pujian tersebut sempat muncul setelah adanya laporan bahwa Saudi melihat operasi militer AS-Israel saat ini sebagai peluang bersejarah untuk menata ulang kekuatan di kawasan Timur Tengah. Namun, ejekan terbaru di Miami ini justru memperlihatkan sisi lain hubungan personal kedua pemimpin yang penuh ketegangan.

Trump mengklaim bahwa MBS dulunya meremehkan Amerika sebagai “negara yang sedang menurun”. Namun kini, menurut klaim Trump, sang Pangeran harus mengakui bahwa Amerika telah berubah menjadi “negara terpanas di dunia”.

Risiko Geopolitik dan Target Berikutnya

Selain menyasar Saudi, Trump juga sesumbar telah mengalahkan Iran dan secara spontan menyebut target operasi berikutnya. “Dan Kuba adalah berikutnya, tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu,” selorohnya di depan media.

Para pengamat menilai ejekan terbuka terhadap pemimpin senior Teluk adalah langkah yang sangat berisiko. Arab Saudi merupakan mitra keamanan dan energi terpenting Washington. Komentar pedas ini berpotensi memperumit dinamika diplomatik yang sudah sangat sensitif, terutama saat Riyadh sedang mencermati upaya diplomasi melalui Pakistan.

Meskipun pandangan Saudi selaras dengan Israel dalam melihat Teheran sebagai ancaman, para ahli mencatat adanya perbedaan tujuan akhir. Saudi sangat khawatir jika keruntuhan total pemerintahan Iran justru akan memicu kekosongan kekuasaan dan melahirkan milisi radikal di sepanjang perbatasan Teluk yang bisa mengancam stabilitas kerajaan.***