Pemerintah melalui Bulog resmi mengumumkan ekspor perdana 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi, Senin (23/2/2026). Langkah ini mempertegas swasembada pangan RI dan mengamankan logistik jemaah haji 2026.


KOSONGSATU.ID – Di awal tahun 2026, Indonesia menorehkan sejarah baru dalam lanskap ketahanan pangan global. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Perum Bulog resmi mengumumkan ekspor perdana 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi pada Senin (23/2/2026).

Langkah strategis yang ditaksir meraup devisa hingga Rp150 miliar ini menjadi bukti nyata kesuksesan swasembada pangan nasional, sekaligus deklarasi awal Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Bukan tanpa alasan Arab Saudi dipilih sebagai negara tujuan pertama. Manuver agresif Perum Bulog ini memiliki sasaran ganda yang sangat krusial: mengamankan logistik pangan jemaah haji sekaligus menginvasi pasar Timur Tengah.

Selama bertahun-tahun, kebutuhan logistik bagi jemaah haji, petugas haji, hingga diaspora Indonesia di Tanah Suci selalu bergantung pada beras impor dari negara kompetitor. Tahun ini, tradisi tersebut resmi diputus. Jemaah haji 2026 dipastikan akan mengonsumsi beras hasil panen petani lokal dengan kualitas premium yang telah disesuaikan dengan standar ketat pemerintah dan importir Arab Saudi.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, secara gamblang menegaskan misi kebanggaan nasional di balik kebijakan ini.

“Kenapa selama ini harus makan dengan beras-beras dari luar Indonesia, yaitu Vietnam dan Thailand? Oleh karena itu di tahun 2026 ini, Indonesia yang sudah swasembada pangan akan membuktikan diri. Ke depan kita menjadi lumbung pangan dunia, dan kita buktikan kita sudah bisa ekspor ke Saudi Arabia,” tegas Rizal di Graha Mandiri, Jakarta.

Menggeser Peta Persaingan Geopolitik Pangan

Di luar urusan logistik haji, pengiriman perdana ini membawa dampak jangka panjang yang signifikan. Ekspor beras RI ke Arab Saudi menjadi pintu pembuka keran diplomasi dagang untuk menggeser hegemoni Vietnam dan Thailand yang selama ini merajai pasar beras di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah juga telah menyusun jadwal keberangkatan secara sistematis dalam dua gelombang utama untuk memastikan rantai pasok berjalan mulus:

  • Jumat, 28 Februari 2026: Pengiriman tahap pertama diluncurkan, diprioritaskan untuk menyuplai kebutuhan logistik petugas haji yang tiba lebih awal di Arab Saudi.
  • Rabu, 4 Maret 2026: Pengiriman tahap kedua diberangkatkan guna menggenapi total kuota permintaan dari otoritas dan importir setempat.

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa Arab Saudi hanyalah batu loncatan pertama dari blueprint ekspansi pangan Nusantara. Jika kualitas dan pasokan beras premium ini terbukti konsisten memenuhi standar Timur Tengah, pemerintah akan segera memperluas target pasar ke kawasan Asia Tenggara.

“Kita akan ekspor beras ke Arab Saudi ya. Untuk perdana ini kira-kira 2.280 ton, nanti lanjut akan Malaysia dan lain-lain. Tanggal 28 ini kira-kira sudah akan diberangkatkan,” ujar Menko Zulkifli.

Dengan terwujudnya ekspor perdana ini, Indonesia tidak hanya sekadar menyelamatkan devisa negara, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada dunia: dari negara yang kerap terjebak rutinitas impor, kini bangkit menjadi pengekspor beras yang siap bertarung di panggung global.***