Berikut video analisa sy re ledakan konflik Timur Tengah, dimana sy juga jelaskan mengapa ide agar Pres Prabowo terbang ke Teheran utk jadi mediator konflik AS-Israel-Iran adalah gagasan yg TIDAK realistis. Sy juga himbau agar Pemerintah 🇮🇩 menangguhkan pengiriman pasukan… pic.twitter.com/yfqMtNYlcU
— Dino Patti Djalal (@dinopattidjalal) March 1, 2026
Nihil Jejak Diplomasi
Kritik terhadap wacana ini semakin kuat jika melihat rekam jejak diplomasi Indonesia dengan Iran belakangan ini. Upaya menjadi penengah membutuhkan modal kepercayaan yang tinggi dari kedua belah pihak. Kenyataannya, intensitas diplomasi RI-Iran berada di titik terendah.
Dalam 15 bulan terakhir sejak masa transisi pemerintahan hingga Maret 2026, Presiden Prabowo tercatat tidak pernah sekalipun bertemu dengan Presiden Iran. Belum ada satu pun kunjungan kerja ke Iran, dan tidak ada pertemuan bilateral antar-pemimpin di negara ketiga.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono juga tercatat belum pernah melakukan kunjungan bilateral resmi ke Teheran. Ia hanya tercatat satu kali bertemu Menlu Iran dalam sebuah forum di Jenewa.
Tawaran diplomasi ini dinilai terlalu reaktif. Publik dan pengamat menuntut agar pemerintah Indonesia, khususnya di bawah kepemimpinan Menlu Sugiono, bersikap jauh lebih hati-hati. Kegagalan memfilter pernyataan kebijakan luar negeri semacam ini justru berisiko melemahkan kredibilitas diplomasi Indonesia di kancah global.
Apalagi, sentimen publik domestik saat ini sangat sensitif terhadap agresi AS-Israel di bulan Ramadan. Kegagalan dalam upaya mediasi yang dipaksakan ini diproyeksikan dapat menjadi noda dalam rekam jejak politik luar negeri Bebas Aktif milik Indonesia.*




Tinggalkan Balasan