Adapun kebutuhan Malaysia secara keseluruhan disebut berada pada kisaran 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun. Namun, angka 200 ribu ton bukan volume yang telah dikontrakkan kepada Indonesia.

“Untuk Sarawak kita membutuhkan lebih kurang 200.000 ton untuk setahun,” kata Jumaat.

Menurut dia, penerimaan konsumen terhadap pengiriman pertama akan menentukan peluang peningkatan pasokan. Dengan demikian, potensi ekspor senilai sekitar Rp3,4 triliun baru dapat dihitung apabila seluruh kebutuhan 200 ribu ton itu benar-benar dipasok Indonesia dengan harga yang sama.

Pengiriman awal sebanyak 1.000 ton setara sekitar 0,02 persen dari stok Bulog yang disebut mencapai 5,2 juta ton. Volumenya relatif kecil, tetapi kebutuhan domestik tetap menjadi faktor utama apabila ekspor diperbesar.

Mulai 17 Agustus 2026, Bulog juga dijadwalkan menyalurkan bantuan pangan kepada sekitar 33,2 juta keluarga penerima manfaat. Program itu membutuhkan sekitar 997 ribu ton beras untuk alokasi 10 kilogram per keluarga per bulan selama tiga bulan.

Selain untuk bantuan pangan, stok Bulog dibutuhkan bagi stabilisasi harga, cadangan darurat, dan antisipasi gangguan produksi. Pemerintah belum menjelaskan batas volume ekspor yang dinilai aman tanpa mengurangi fungsi tersebut.

“Seribu ton yang pertama itu sebagai langkah promosi kita untuk mempromosikan beras-beras Indonesia ke Sarawak khususnya dan Malaysia umumnya,” ujar Jumaat.***