Peneliti asal Madiun mengembangkan biodiesel dari sisa makanan dan minyak jelantah. Produk tersebut masih memerlukan pengujian independen, standardisasi, dan perizinan sebelum dipasarkan luas.

KOSONGSATU.ID — Peneliti independen asal Madiun, Cahya Yudi Widianto, mengembangkan biodiesel BM-100 dengan memanfaatkan limbah organik, termasuk sisa makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan minyak jelantah.

Riset tersebut dilakukan di rumah produksi PT Marolis Cahaya Internasional, Jalan Sawahan, Kelurahan Manguharjo, Kota Madiun. Cahya menargetkan fasilitas itu mampu menghasilkan 1.000 liter biodiesel per hari saat memasuki skala industri.

“Indonesia memiliki limbah pasar dan rumah tangga yang sangat besar. Dari situlah kami mengembangkan teknologi pembuatan solar dari limbah,” kata Cahya, Kamis, 30 Juli 2026.

BM-100 merupakan singkatan dari Biodiesel Marolis 100. Angka 100 merujuk pada klaim penggunaan bahan baku nonfosil secara penuh, bukan campuran biodiesel dengan minyak solar.

Namun, produk tersebut masih berada pada tahap kajian ilmiah. Belum ada keterangan mengenai hasil uji mutu dari lembaga independen ataupun sertifikasi yang memastikan BM-100 telah memenuhi standar bahan bakar nabati untuk dipasarkan kepada masyarakat.

Limbah Diolah Hingga Menjadi Asam Lemak

Bahan baku BM-100 mencakup sisa nasi, sayuran, telur, daging, minyak jelantah, ampas tebu, dan tepung ketela. Limbah organik dipanaskan, dihancurkan, lalu difermentasi hingga menghasilkan gula.

Gula tersebut kemudian diolah menjadi asam lemak bebas atau free fatty acid sebagai bahan baku biodiesel. Pengolahan minyak jelantah membutuhkan waktu sekitar 24 jam, sedangkan limbah makanan memerlukan hingga 10 hari.

“Proses pembuatan biodiesel ini menggunakan bahan dari limbah MBG, minyak bekas, ampas tebu, dan tepung ketela. Semua bahan tersebut banyak ditemukan di lingkungan kita,” ujar Cahya.

Menurut dia, hasil uji coba internal menunjukkan satu kilogram limbah dapat menghasilkan sekitar satu liter biodiesel. BM-100 juga telah dicoba pada mobil dan truk, tetapi hasil pengujian teknis mengenai mutu bahan bakar, emisi, efisiensi, serta dampaknya terhadap mesin belum dipublikasikan.

Klaim bahwa kualitas BM-100 mendekati Dexlite juga masih berasal dari pengembang. Karena itu, kesetaraan keduanya belum dapat dipastikan tanpa hasil uji laboratorium terhadap parameter seperti angka setana, kadar air, viskositas, titik nyala, kandungan sulfur, dan kestabilan oksidasi.

Ditargetkan Mengolah Tiga Ton Limbah

Cahya menargetkan fasilitas produksinya kelak dapat menyerap sedikitnya tiga ton limbah organik per hari. Sisa makanan dari dapur MBG menjadi salah satu sumber bahan baku yang dibidik.

Pengembangan BM-100 turut mendapat perhatian Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun. Pemerintah kota melihat teknologi tersebut berpotensi membantu mengurangi sampah organik yang selama ini mendominasi timbunan sampah harian.

Subkoordinator Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun, Annita Yuli Mayasari, mengatakan pemerintah membuka kemungkinan kerja sama apabila teknologi itu telah siap diterapkan.

“Ini menjadi angin segar bagi kami karena bisa menjadi salah satu solusi pengolahan sampah organik. Ke depan tentu ada peluang untuk berkolaborasi,” kata Annita.***