Sejarah sebagai Ruang Hidup

Keberadaan Situs Persada Soekarno dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual melalui pendekatan genius loci.

“Belajar di tempat ini berbeda. Ada energi sejarah. Kami ingin peserta merasakan kembali denyut perjuangan para pendiri bangsa, bukan sekadar membacanya di buku,” ujarnya.

Diskusi kelompok dan simulasi peran digunakan untuk melatih empati, daya kritis, serta kemampuan mengambil keputusan berbasis nilai.

Mengunci Nilai Menjadi Karakter

Tahap akhir BINLAT difokuskan pada refleksi dan internalisasi nilai agar seluruh pengalaman belajar melekat sebagai karakter.

“Semua proses ini kami kunci di akhir. Tujuannya agar nilai spiritual, intelektual, kultural, dan etika itu menetap, bukan hilang setelah pelatihan selesai,” kata Kushartono.

Seluruh rangkaian BINLAT didampingi instruktur bersertifikasi BNSP. Program ini menjadi uji coba pendekatan pendidikan karakter terpadu yang memadukan rasa, nalar, dan pengalaman dalam satu kesatuan pembelajaran.***