Setelah kapal kargo Ever Lovely dihantam pesawat nirawak Iran di Selat Hormuz, AS membalas dengan gempuran beruntun — dan Iran menyerang balik ke empat pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

KOSONGSATU.ID — Sebuah kapal kargo berbendera Singapura menjadi sumbu konflik terbaru di Timur Tengah. Kapal Ever Lovely dihantam pesawat nirawak Iran di Selat Hormuz pada Kamis, 26 Juni 2026 — dan rentetan serangan lintas batas pun meletus dalam 48 jam berikutnya.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pesawat tempur Amerika menghantam sejumlah sasaran militer Iran pada Jumat dan Sabtu. Targetnya mencakup infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, gudang pesawat nirawak, hingga fasilitas penebar ranjau laut.

Korps Garda Revolusi Balas Tembak

Pada Sabtu pagi waktu setempat, setelah serangan AS pada Jumat, CENTCOM menyatakan Iran kembali melancarkan serangan pesawat nirawak — kali ini menghantam kapal tanker M/T Kiku — sebelum akhirnya AS melancarkan gelombang serangan kedua.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak menunggu lama. IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di empat lokasi: Al Udeid di Qatar, Ali Al Salem di Kuwait, Al Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas Armada Kelima di Bahrain. Qatar melaporkan tidak ada korban di Al Udeid.

IRGC memperingatkan bahwa jika AS kembali melancarkan serangan, respons mereka “akan lebih luas dari ini.” Bahrain mengaktifkan sirene dan menginstruksikan warga berlindung. Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara mereka aktif mencegat serangan.

Memorandum Sepekan, Kini di Ujung Tanduk

Pertukaran serangan ini membayangi masa depan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juni 2026 — dokumen yang menyebut penghentian “permanen” operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon. Kini, kedua pihak saling tuding siapa yang pertama melanggar.

IRGC bahkan mengancam serangan AS akan berujung pada “penghentian total semua proses diplomatik.” Pernyataan itu langsung mempertanyakan kelanjutan perundingan teknis di Swiss yang sebelumnya melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance.

Vance sendiri telah menegaskan bahwa AS telah mematuhi MoU. “Jika mereka keberatan dengan penerapan MoU, mereka bisa angkat telepon,” tulisnya di media sosial — setelah mendukung langkah CENTCOM yang menyerang Iran.

Presiden AS Donald Trump tidak kalah keras. Melalui akun Truth Social-nya, Trump menegaskan serangan itu dilakukan karena Iran “lagi-lagi melanggar” perjanjian gencatan senjata, dan melempar ancaman eksistensial: “Akan tiba saatnya ketika kami terpaksa menyelesaikan secara militer apa yang telah kami mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi.”

Seorang analis maritim yang dikutip Al Jazeera menilai situasi ini mencerminkan tingginya risiko bagi kapal-kapal yang melintas di selat tersebut: “Iran masih memiliki kekuatan militer yang cukup untuk mengancam kapal jika mereka menggunakan jalur Oman yang didukung AS.”

Jalur pelayaran tersibuk di dunia kini terjebak di antara dua kekuatan yang saling ancam — sementara dokumen perdamaian yang baru berumur sepekan terancam runtuh sebelum tinta pun kering.***