“Mewaktu” dan Menjadi Diri Sendiri

Filsuf Jerman, Martin Heidegger, melangkah lebih jauh. Ia menyebut manusia harus “mewaktu”— atau mengada di dalam waktu. Artinya, kita bukan sekadar penumpang di arus waktu, melainkan makhluk yang menandai waktu dengan pilihan, kesadaran, dan tindakan.

Manusia yang hidup otentik adalah mereka yang sadar bahwa setiap detik adalah ruang untuk menjadi diri sendiri, bukan sekadar mengikuti arus atau meniru orang lain.

Bagi Heidegger, waktu bukan hanya sesuatu yang kita alami, tapi juga sesuatu yang kita wujudkan. Ia adalah panggung di mana manusia hadir, berpikir, dan memutuskan siapa dirinya di tengah arus kehidupan yang terus bergerak.

Waktu dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, waktu bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari hukum spiritual kehidupan. Ada empat istilah penting dalam Al-Qur’an: ajal, dahr, waqt, dan ‘ashr.

Ajal berarti batas akhir—karena segala sesuatu punya ujung.

Dahr berarti durasi—rentang hidup yang diberikan kepada setiap makhluk.

Waqt berarti kesempatan—sebuah momen yang jika terlewat, tak bisa diulang.

Dan ‘ashr berarti masa—saat-saat genting yang menentukan arah hidup kita.

Karena itu, Allah bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr: Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Imam Syafi’i menafsirkan ayat ini dengan sederhana: waktu itu seperti pedang. Kalau kamu tidak memotongnya, ia yang akan memotongmu. Artinya, waktu bisa jadi alat untuk menaklukkan hidup, atau justru alat yang menelan kita habis.

Waktu bisa jadi sahabat, bisa juga jadi musuh, tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Misteri yang Tak Pernah Selesai

Dari filsafat Barat, mitologi Yunani, hingga pandangan sufistik Timur, semuanya berujung pada satu hal: waktu adalah misteri yang sekaligus nyata dan tak tersentuh. Ia bisa diukur tapi tak bisa ditangkap. Ia bisa dibagi, tapi tak bisa dihentikan. Ia bisa dikejar, tapi tak bisa dimiliki.

Dan mungkin, jawaban paling jujur untuk pertanyaan “apa itu waktu?” bukan teori, bukan definisi, melainkan kesadaran sederhana: bahwa waktu adalah hidup itu sendiri—yang terus berjalan, sementara kita belajar untuk mengiringinya, setia padanya, dan tidak menyia-nyiakannya.

Waktu adalah peluang yang sedang kita genggam sekarang. Atau, bila kau lengah, ia akan menjadi sesuatu yang pelan-pelan meninggalkanmu.***