Malaysia sudah bebas, namun dua kapal tanker Pertamina RI masih tertahan di Selat Hormuz. Iran belum buka akses untuk Indonesia.


KOSONGSATU. ID – ​Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membawa imbas langsung bagi rantai pasok energi Indonesia. Saat ini, dua kapal tanker raksasa milik Pertamina masih terjebak di perairan Teluk Arab.

Otoritas Iran belum memberikan izin bagi kapal berbendera Indonesia tersebut untuk melintasi Selat Hormuz.

​Tragisnya, negara tetangga seperti Malaysia justru sudah mendapatkan keistimewaan dan berhasil membawa keluar kapal mereka dari kawasan konflik tersebut.

​Malaysia dan Negara Sahabat Dapat Lampu Hijau

​Di tengah memanasnya situasi, pemerintah Iran mengambil kebijakan selektif dengan membuka akses Selat Hormuz secara terbatas hanya untuk negara-negara yang mereka anggap bersahabat.

​Konsulat Jenderal Iran di Mumbai melalui akun X resmi mereka menyiarkan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis (26/3/2026). Araghchi menegaskan bahwa negaranya mengizinkan pelayaran bagi negara sahabat seperti China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.

​Selain daftar negara tersebut, Malaysia juga bergerak cepat mengamankan asetnya. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memastikan kapal tankernya telah mengantongi izin melintas. Keberhasilan ini terwujud setelah Anwar menjalin komunikasi langsung dengan para pemimpin negara di kawasan Timur Tengah.

​Bahkan, melalui pidato televisi pada Kamis (26/3/2026), Anwar Ibrahim secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas pelonggaran kebijakan tersebut.

Kini, Malaysia sedang memproses pemulangan kapal tanker minyak sekaligus para pekerja yang sempat tertahan.

Selain kapal tanker Malaysia, kapal tanker minyak Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Hal itu tercapai setelah pemerintah Thailand dan Iran melakukan koordinasi diplomatik, menurut Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.

​Pemerintah RI Terus Kebut Negosiasi

​Sementara Malaysia bernapas lega, Indonesia masih harus berjuang di meja perundingan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah berupaya keras membebaskan dua kapal tanker Pertamina tersebut.