Warga Shiddiqiyyah tetap menghimpun iuran dan menyumbangkan tenaga untuk membangun Rumah Syukur di Madiun, meski kebutuhan keluarga dan biaya pembangunan harus dipenuhi bersamaan.

KOSONGSATU.ID — Pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah di Madiun tetap berjalan pada Oktober 2026 di tengah kenaikan harga bahan bangunan. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) mengandalkan iuran warga Shiddiqiyyah dan tenaga relawan untuk melanjutkan pekerjaan.

Berdasarkan informasi internal program, pembangunan satu rumah diperkirakan membutuhkan Rp80 juta hingga Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan konstruksi, termasuk semen, pasir, batu bata, dan besi.

Di luar kebutuhan material, pelaksanaan pembangunan memerlukan konsumsi bagi relawan. Anggarannya diperkirakan Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari, dengan total pengeluaran bergantung pada lamanya pengerjaan.

Warga yang berpartisipasi harus membagi kemampuan ekonominya antara kebutuhan rumah tangga dan dukungan pembangunan. Namun, penghimpunan iuran dan pekerjaan oleh relawan terus berlangsung.

Biaya Naik, Gotong Royong Berjalan

Tekanan harga material tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks Harga Perdagangan Besar kelompok bangunan atau konstruksi pada September 2026 naik 9,63 persen dibandingkan September 2025.

Dalam rilis 1 Oktober 2026, BPS menyebut kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga aspal, baja tulangan atau besi beton, semen, batu pecahan, dan pasir.

Angka itu menggambarkan perubahan harga pada tingkat perdagangan besar. Kenaikannya tidak berlaku seragam untuk setiap material di toko dan tidak otomatis menunjukkan tambahan biaya Rumah Syukur sebesar persentase yang sama.

Informasi internal program belum memuat perbandingan anggaran dengan pembangunan sebelumnya. Besarnya kenaikan biaya yang ditanggung program karena perubahan harga material belum dapat dihitung.

Di lokasi pembangunan, partisipasi warga berlangsung melalui beberapa bentuk. Sebagian menyumbangkan dana, relawan mengerjakan bangunan, dan warga lainnya mendukung penyediaan konsumsi.

Dengan pola tersebut, kebutuhan pembangunan dipenuhi melalui gabungan iuran, tenaga, dan dukungan harian. Keberlanjutan pekerjaan bergantung pada dana yang terkumpul serta keterlibatan relawan.

Iuran Menjadi Tumpuan

Menurut keterangan internal program, pembangunan bertumpu pada swadaya warga Shiddiqiyyah tanpa menjadikan bantuan pemerintah sebagai sumber pendanaan.

Program juga membuka kesempatan bagi masyarakat luas yang ingin bersedekah secara sukarela. Partisipasi tersebut menjadi dukungan tambahan bagi pembiayaan yang dihimpun warga.

Rumah Syukur diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas peringatan Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di Madiun, pelaksanaannya tetap berlangsung dengan perkiraan kebutuhan puluhan juta rupiah untuk setiap rumah.***