Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu’thi, mengingatkan bahwa nilai sebuah kebaikan tidak diukur dari kemeriahannya, melainkan dari seberapa lama manfaatnya dirasakan orang banyak.
KOSONGSATU.ID – Pesan itu ia sampaikan saat berkunjung ke Jaami’atul Mudzakkirin Yarjuu Rochmatalloh Shiddiqiyyah di Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (04/10).
Syekh Mukhtar merujuk pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah: Achabbul a’maali ilalloohi adwamuha wa in qolla. Artinya, “Amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah amal yang lestari, meskipun sedikit.”
Mengapa kata “paling” penting?
Dalam Pitutur Luhur-nya, Syekh Mukhtar memberi penekanan khusus pada frasa “paling dicintai”. Menurut dia, semua amal baik dicintai Allah. Namun, predikat “paling” diberikan kepada amal yang manfaatnya terbukti dan dirasakan banyak orang dalam waktu yang panjang.
“Sebab amal yang lestari itu amal baik yang faktanya bisa dibuktikan, dirasakan, oleh manusia banyak, kapan pun, dalam keadaan apa pun,” kata Syekh Mukhtar.
Amal “sak gebyaran”
Yang ia khawatirkan adalah amal sak gebyaran, istilah Jawa untuk sesuatu yang hanya berkilat sekali lalu padam.
Menurut Syekh Mukhtar, amal semacam itu tidak memiliki akar yang kuat. Begitu acaranya usai, kebaikannya pun berhenti tanpa kelanjutan.
Dari pesta semalam ke Rumah Syukur
Syekh Mukhtar lalu menyinggung kebiasaan menghabiskan dana hingga miliaran rupiah untuk merayakan hari besar dengan pesta yang selesai dalam satu malam. Ia tidak menolak kegembiraan, tetapi menawarkan cara lain: mengalihkan anggaran itu untuk membangun Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah.
Menurut dia, kegembiraan penerima rumah tidak berakhir ketika perayaan selesai. Rasa syukur itu terus ada selama keluarga penerima berteduh di bawah atapnya, selama anak-anak mereka belajar di dalamnya, dan selama mereka merasa aman.
“Kegembiraannya itu lestari. Nah, lestarinya mengalami kegembiraan itu memantul kepada orang yang bershodaqoh,” ujarnya.
Gagasan “pantulan kebahagiaan” inilah yang menjadi landasan program bedah rumah Shiddiqiyyah. Pada Agustus 2026, Organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (Dhibra) Shiddiqiyyah meresmikan 136 unit Rumah Syukur dengan anggaran lebih dari Rp12,9 miliar. Sejak 2002, bersama program peringatan Sumpah Pemuda, jamaah Shiddiqiyyah telah membangun 2.466 rumah senilai Rp147,48 miliar dari iuran dan sedekah sukarela.***
Artikel ini dikutip dari Opshidmedia.net.




Tinggalkan Balasan