Bung Karno meyakini darah Sunan Kalijaga mengalir di nadinya. Bagaimana ulama NU menjadikan trah Wali Songo ini sebagai poros imaji nasionalisme Indonesia?

KOSONGSATU.ID – Udara Jakarta terasa lebih hangat dari biasanya pada 3 Agustus 1965. Di Istana Negara, Presiden Soekarno berdiri di atas mimbar untuk menerima gelar Doktor Honoris Causa di bidang Falsafah Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Di hadapan para hadirin, Sang Proklamator tidak sekadar berpidato tentang anti-imperialisme seperti biasanya. Hari itu, ia membedah relung spiritualnya yang terdalam melalui pidato bertajuk “Tauhid adalah Djiwaku”.

Di tengah orasi yang berapi-api itu, Bung Karno melontarkan sebuah pengakuan historis yang menggetarkan ruangan. Ia secara terbuka mengafirmasi silsilah keluarganya yang tersambung kepada salah satu Wali Songo.

“… Sjukur alhamdulillah, saja ini adalah salah seorang turunan dari Sunan Kalidjogo itu…. Sunan Kalidjogo adalah seorang pahlawan kita Saudara-Saudara…,” pekik Soekarno dengan suara baritonnya yang khas.

Bagi sebagian orang, pernyataan itu mungkin terdengar seperti romantisme sejarah belaka. Namun, bagi Soekarno, itu adalah kebanggaan spiritual yang nyata. Kedekatan batin ini tidak hanya berhenti pada retorika mimbar. Sejarah mencatat, Sang Presiden kerap berziarah ke makam leluhurnya tersebut, bahkan ia turun tangan langsung memprakarsai pemugaran makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Imaji Indonesia di Mata Pesantren

Di panggung politik dan kultural Indonesia—khususnya bagi kaum Nahdliyin—klaim genealogis Soekarno ini adalah jembatan emas yang menghubungkan masa lalu Nusantara dengan imaji keindonesiaan modern.

Jauh sebelum republik ini berdiri tegak, para tokoh pergerakan berdebat sengit tentang dari mana “titik nol” Indonesia harus ditarik. Ernest Douwes Dekker menggagas “Nasionalisme Hindia”. Mohammad Yamin menunjuk kebesaran Majapahit. Sementara Buya Hamka menarik garis pandang dari kejayaan Islam di masa silam.

Namun, di sudut-sudut pesantren, para ulama memiliki imajinasi yang berbeda. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), embrio keindonesiaan tidak bisa dilepaskan dari tapak tilas para penyebar Islam di tanah Jawa: Wali Songo. Para wali inilah—dengan pendekatan kulturalnya yang lentur—yang berhasil merajut entitas Nusantara.

Keyakinan ini mengakar begitu kuat, hingga Rais Aam PBNU yang karismatik, KH. Abdul Wahab Chasbullah, menjadikan Wali Songo sebagai kredo politik dan kebangsaan.

Restu Sang Kiai untuk Keturunan Wali

Titik temu antara imajinasi NU dan wibawa Soekarno memuncak pada Muktamar ke-XXIII NU di Surakarta, akhir Desember 1962. Di tengah pusaran politik Demokrasi Terpimpin yang memanas, NU secara sadar menegaskan posisinya untuk menyokong Bung Karno. Sokongan ini bukan sekadar taktik politik praktis, melainkan didasarkan pada ikatan batin dan nasab.

Upaya melekatkan tokoh bangsa dengan figur wali itu disampaikan langsung oleh Kiai Wahab secara tertulis. Dalam pengantarnya di “Buku Petundjuk Mu’tamar ke-XXIII Partai Nahdlatul Ulama”, Kiai Wahab memberikan legitimasi historis yang luar biasa bagi Sang Presiden:

“Demikianlah, achirnja kami berdo’a semoga Muktamar kita di Solo nanti bermanfaat bagi bangsa dan Negara serta Pemerintah Republik Indonesia jang dipimpin oleh P.J.M. Presiden H. A. Soekarno, salah seorang Putera keturunan Sunan Kalidjogo R. Sahid Lokodjeju alias Sunan Geseng, beliau adalah seorang wali diantara wali songo jang terbesar pengaruhnja dan terkuat djiwa kenasionalannja….”

Kalimat Kiai Wahab ini adalah sebuah proklamasi kultural. Ia melegitimasi bahwa nasionalisme Soekarno bukanlah produk impor dari Barat, melainkan warisan langsung dari kearifan Raden Sahid Lokajaya.

Secara silsilah, darah Sunan Kalijaga mengalir dalam tubuh Soekarno melalui jalur ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Dari neneknya, nasab itu ditarik ke atas menuju Pahlawan Nasional Nyai Ageng Serang, melintasi Panembahan Wijil, hingga berhulu langsung pada Sunan Kalijaga.

Nasab, Nasib, dan Arah Bangsa

Apakah kebesaran Soekarno semata-mata karena nasab keturunan sultan dan wali? Tentu tidak. Sejarah mencatat bahwa nasab yang agung acap kali hanya berakhir sebagai hiasan dinding bagi mereka yang tak mau berkeringat.

Namun, Soekarno adalah anak zaman yang cerdik. Di tengah masyarakat Indonesia yang masih kental dengan kosmologi patronase, ia meramu nasabnya yang luhur menjadi alat persatuan yang ampuh. Ia menggunakan darah Brahmana Bali dari sang ibunda dan darah Sunan Kalijaga dari sang ayah untuk menjahit jubah persatuan bernama Bhinneka Tunggal Ika.

Di sisi lain, para kiai NU seperti KH. Wahab Chasbullah melihat Soekarno bukan sekadar pemimpin negara, melainkan pemegang estafet kearifan para wali (Waliyul Amri). Bagi mereka, nasionalisme Indonesia akan kehilangan jiwanya jika dicabut dari akar spiritual Wali Songo.

Pada akhirnya, pertautan antara Soekarno, NU, dan memori tentang Sunan Kalijaga mengajarkan kita satu hal penting: bangsa ini dibangun bukan sekadar dengan letusan senapan, melainkan melalui imajinasi kultural yang merangkul. Bung Karno membuktikan bahwa nasionalisme yang sejati adalah ketika manusia mengenali akar sejarahnya, memeliharanya, tanpa kehilangan pijakan untuk melangkah ke masa depan.***


​Daftar Rujukan:

  • ​Adams, Cindy. (2007). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yogyakarta: Media Pressindo.
  • Panitia Muktamar XXIII NU. (1962). Buku Petundjuk Mu’tamar ke-XXIII Partai Nahdlatul Ulama. Surakarta: Sekretariat Panitia.
  • Salam, Solichin. (1985). Sekitar Walisanga. Kudus: Penerbit Menara.
  • Soekarno. (1965). Tauhid adalah Djiwaku (Pidato Pengukuhan Dr. HC di Universitas Muhammadiyah Jakarta, 3 Agustus 1965).
  • Arsip Berita: Muktamar NU 1962 (Bagian 1), NU Online (Januari 2020).