Pokémon bertemu wayang, pemerintah menjanjikan berkah ekonomi. Namun, siapa mendapat pesanan dan berapa bayarannya masih berada di belakang kelir.

KOSONGSATU.ID — Kalau Pikachu masuk dunia wayang, pertanyaan paling gampang tentu siapa dalangnya. Pertanyaan berikutnya, yang kurang cocok dicetak besar-besar di panggung peluncuran: siapa mengerjakan wayangnya dan berapa bayarannya?

Pertanyaan itu kalah menggemaskan dibandingkan Pokémon. Namun, bagi perajin, kepastian pembayaran boleh jadi lebih menyenangkan daripada hasil kerjanya disebut mendunia.

The Pokémon Company meluncurkan Poke Wayang di Jakarta pada Senin, 14 September 2026. Kolaborasi karakter Pokémon dengan bentuk artistik wayang Indonesia ini melibatkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, dan Chief Operating Officer The Pokémon Company Takato Utsunomiya.

Harapannya menarik: wayang mendapat perhatian generasi muda, budaya Indonesia dikenal lebih luas, dan ekonomi ikut bergerak. Hanya saja, antara mendapat perhatian dan mendapat penghasilan, ada jarak yang tidak bisa ditempuh dengan tepuk tangan.

Chief Operating Officer The Pokémon Company Takato Utsunomiya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dalam peluncuran Wayang Pokemon di Jakarta, Senin (14/9). (Istimewa)

Efek Ganda, Rincian Menyusul

Irene Umar menyatakan kolaborasi ini berpotensi membantu pelestarian budaya sekaligus meningkatkan pesanan pelaku kriya. Ia juga memperkirakan pengenalan wayang akan meluas dan menarik wisatawan.

Fadli Zon menempatkannya dalam pengembangan industri kreatif dan ekonomi berbasis budaya. Takato Utsunomiya menyampaikan keinginan perusahaan mempelajari kebudayaan Indonesia dan menciptakan pengalaman baru bersama Pokémon.

Kepentingannya bisa bertemu. Pemerintah ingin wayang mendapat penonton baru, perusahaan ingin Pokémon semakin dekat dengan masyarakat, dan pelaku budaya berpeluang memperoleh pekerjaan.

Masalahnya, peluang belum sama dengan pesanan. Informasi peluncuran yang tersedia belum menjelaskan nama dalang, sanggar, perajin, nilai kontrak, daerah produksi, maupun pembagian pendapatan.

Bentuk kegiatannya juga belum terang. Apakah ada pertunjukan dengan dalang, lakon, gamelan, sinden, dan pengrawit? Atau terutama menghasilkan produk kriya serta materi promosi?

Keduanya bisa bernilai. Namun, kalau yang dijanjikan pelestarian sekaligus peningkatan ekonomi, publik berhak mengetahui budaya mana yang dirawat dan ekonomi siapa yang meningkat.

Pikachu Sudah Hafal Jalan

Pokémon bukan tamu yang baru pertama kali mencari alamat di Indonesia. Pada 2019, perusahaan mulai memasuki pasar Indonesia secara lebih serius melalui permainan kartu berbahasa Indonesia. Pokémon GO menyediakan dukungan bahasa Indonesia pada 2022.

Pada 2024, Pikachu’s Indonesia Journey menjangkau Bali, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Puncak kegiatan di Jakarta menampilkan 1.600 pesawat nirawak. Pikachu juga pernah mengenakan batik.

Sekarang ia mendekati wayang. Kalau diibaratkan bertamu, Pokémon sudah melewati tahap bertanya alamat dan mulai mengenali selera tuan rumah.

Perusahaan memang menyampaikan keinginan mengintegrasikan Pokémon dengan kebudayaan Indonesia. Menumbuhkan kecintaan terhadap Pokémon di Asia Tenggara juga menjadi tujuan jangka panjangnya.

Jadi, promosi budaya dan kepentingan bisnis berjalan bersamaan. Itu tidak otomatis bermasalah. Justru karena ada nilai komersial, pembagian manfaatnya perlu jelas. Kata “kolaborasi” akan lebih meyakinkan jika disertai keterangan siapa mengerjakan apa dan menerima berapa.

Wayang Bukan Barang Beku

Persoalannya bukan Pikachu harus membawa surat pengantar sebelum memasuki kelir. Wayang berkembang dengan menyerap dan mengolah berbagai pengaruh, dari wiracarita India hingga persoalan masyarakat sehari-hari.

Dalang juga menafsirkan zaman, bukan sekadar mengulang cerita. Keluwesan tersebut memungkinkan wayang terus berbicara kepada penonton yang berubah.

UNESCO memasukkan wayang ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2008. Pengakuannya mencakup pertunjukan, cerita, musik, keterampilan pembuatan, dan pengetahuan yang diwariskan.

Karakter Pokémon bisa menjadi pintu masuk. Anak yang tertarik kepada Pikachu mungkin kemudian ingin belajar wayang. Namun, kemungkinan itu membutuhkan tindak lanjut: pertunjukan, pertemuan dengan perajin, atau kegiatan belajar.

Pengenalan budaya tidak otomatis berlangsung begitu sebuah karakter diberi tangkai.

Pamor Naik, Pendapatan Bagaimana?

Manfaat bagi pelaku wayang perlu terlihat melalui pekerjaan, pembayaran, kesempatan tampil, dan ruang mengajarkan keterampilan. Pemerintah dapat mengumumkan jumlah pelaku yang dilibatkan, nilai pesanan, pertunjukan, serta kegiatan pendidikan.

Pembagian hak atas hasil kolaborasi juga perlu dijelaskan. Pokémon memiliki sistem lisensi global, sementara pelaku wayang menyumbangkan keterampilan dan pengetahuan. Bagaimana kontribusi mereka diakui dan dibayar?

Informasi yang tersedia belum menjawabnya. Kekosongan itu tidak membuktikan ada pihak dirugikan, tetapi belum memungkinkan publik memastikan manfaatnya terbagi layak.

Pikachu boleh mendapat sorotan di depan kelir. Yang menghidupkan wayang jangan sampai cuma kebagian ucapan terima kasih setelah lampunya dimatikan.***