Bukan sekadar dongeng, Syair Lampung Karam adalah reportase langsung pribumi atas kiamat kecil Krakatau 1883. Sang penulis, Muhammad Saleh, tak hanya selamat dari maut, tetapi mewariskan jejak sejarah dan pesan mitigasi yang tak boleh dilupakan.
KOSONGSATU.ID – Gelombang setinggi 40 meter menyapu bersih pesisir Selat Sunda, membawa lumpur, batu, dan kegelapan abadi yang mencekik napas warga.
Di tengah jerit panik dan lautan mayat, seorang penyintas bernama Muhammad Saleh merekam “kiamat” 27 Agustus 1883 itu bukan dengan isak tangis, melainkan melalui goresan pena yang abadi.
Suara Pribumi yang Sempat Hilang
Selama lebih dari satu abad, narasi kedahsyatan letusan Krakatau (Rakata) didominasi oleh catatan para pejabat Hindia Belanda dan ilmuwan Barat. Tragedi yang merenggut lebih dari 36.000 nyawa ini seolah membungkam suara rakyat kecil di sekitarnya.
Sampai akhirnya, Suryadi, seorang filolog dari Universiteit Leiden, menemukan naskah kuno beraksara Arab-Melayu (Jawi) di Singapura yang terbit pertama kali pada rentang 1883-1884.
Naskah cetak batu (litografi) yang kemudian diedarkan dalam edisi keempat (1888) dengan judul Inilah Syair Lampung Karam Adanya itu, menjadi satu-satunya saksi bisu masyarakat pribumi dalam memotret bencana maha dahsyat tersebut.
Sang Ulama Penguasa Telukbetung
Siapa sebenarnya sosok di balik syair memilukan ini? Penelusuran arsip dan sejarah lisan menyingkap bahwa Muhammad Saleh bukanlah saksi mata sembarangan. Ia adalah pendatang asal Bone, keturunan Poeta Djanggoek, yang menetap di Telukbetung pada awal abad ke-19.
Bersama kakaknya, Mohammad Ali—yang diangkat menjadi Regent (Bupati) oleh Belanda pada 1856 berkat jasanya menumpas perompak bajak laut—Saleh turut membangun peradaban lokal. Ia dikenal sebagai ulama bergelar “penghulu” yang sangat disegani.
Dedikasinya bagi masyarakat terukir saat ia merintis pembangunan musala sederhana pada 1839, yang kelak menjadi cikal bakal Masjid Jami’ Al Anwar, masjid tertua di Lampung. Ketika kakaknya wafat pada 1879, roda pemerintahan di Telukbetung bahkan diteruskan oleh Saleh.
Kengerian dalam Bait-Bait Jawi
Masa kepemimpinan Saleh diuji oleh amuk Krakatau yang meluluhlantakkan pesisir dari Kitambang, Talang, Limau, hingga Merak, termasuk menghancurkan musala yang ia bangun. Di usia yang diperkirakan menginjak 69 tahun, ia menyelamatkan diri dari pusaran maut dan mengungsi ke Singapura.
Di Kampung Bangkahulu (kini Bencoolen Street), ia merangkai ingatannya menjadi karya sastra bernilai sejarah.
“Riuh bunyi di dalam perahunya. Bersahutan sama sendirinya. Seperti kiamat rupa bunyinya,” tulis Saleh dalam salah satu baitnya, menggambarkan momen ketika gunung seolah memuntahkan isi perut bumi. Hebatnya, laporan pandangan mata layaknya jurnalis ini tak sekadar memotret kehancuran fisik, tapi juga secara kritis menyorot kekacauan sosial.
Saleh melaporkan adanya oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menjarah harta benda warga di tengah penderitaan massal tersebut.
Alarm Mitigasi yang Terabaikan
Dua tahun pasca-tragedi, Muhammad Saleh wafat pada 1885 dan disemayamkan di kaki Gunung Kunyit (dahulu Gunung Seri), Telukbetung, yang kini dikenal sebagai pusara Keramat Datuk Puang. Jasadnya menyatu dengan bumi, namun warisan laporannya terus hidup menantang zaman.
Sayangnya, memori kolektif tentang letusan 1883 hari ini perlahan terkikis. Agenda peringatan tahunan seperti Festival Krakatau sering kali terjebak pada gegap gempita panggung hiburan ketimbang menonjolkan edukasi kebencanaan.
Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan bahwa naskah Saleh memadukan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan kaidah jurnalistik yang semestinya menjadi tuntunan, bukan sekadar tontonan.
Senada dengan itu, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti pentingnya dokumen ini sebagai pondasi mitigasi. Ia mendesak agar Syair Lampung Karam diadopsi sebagai kurikulum muatan lokal Banten dan Lampung.
Menurutnya, pengetahuan mitigasi harus beranjak dari sekadar kesadaran, menuju objektifikasi lewat artefak sejarah, hingga akhirnya terinstitusionalisasi melalui kebijakan pemerintah.
Syair Lampung Karam menembus lorong waktu untuk menyentil ingatan dan keangkuhan manusia modern. Di balik bait-bait pilu Muhammad Saleh, tersimpan pesan abadi bahwa alam memendam ritmenya sendiri yang tak bisa ditaklukkan, hanya bisa dipahami.
Jika kita abai menjadikan memori sejarah sebagai guru dalam mitigasi, kita akan selalu rentan untuk kembali “karam” ditelan siklus bencana di masa depan.***
Daftar Rujukan:
- Kirka (2026). Syair Lampung Karam: Kesaksian Abadi Letusan Krakatau yang Tak Boleh Terlupakan.
- National Geographic/Zine (2026). Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi Tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883.
- Udo Z. Karzi & Iyar Jarkasih (2011). Mencari Jejak Penulis ‘Syair Lampung Karam’. Sastra-Indonesia.com.
- Suryadi (2010). Syair Lampung Karam, Dokumen Langka. Kompas.com.





Tinggalkan Balasan