Kita hidup di era di mana “melihat adalah mempercayai.” Apa yang tampak di layar gawai, video yang viral, atau tren yang tertangkap mata kerap langsung kita telan sebagai sebuah kebenaran. Kita sangat mendewakan indra penglihatan. Namun, pernahkah Anda berpikir bahwa mata kita sebenarnya adalah organ yang sangat rapuh dan mudah tertipu?

KOSONGSATU.ID — Ribuan tahun lalu, jauh sebelum sains modern menemukan ilusi optik atau algoritma digital yang memanipulasi pandangan kita, seorang pemikir besar Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali, sudah mengingatkan keterbatasan ini.

Melalui kitab tasawuf filosofisnya yang bertajuk Misykatul Anwar—yang kemudian diulas secara apik oleh banyak cendekiawan di muka bumi—Al-Ghazali mengajak kita merenungkan kembali esensi dari apa yang kita sebut sebagai “cahaya.”

Bagi sebagian besar dari kita (kaum awam), cahaya hanyalah sesuatu yang bersifat fisik. Lampu, matahari, atau layar ponsel adalah cahaya karena mereka membuat benda yang gelap menjadi kelihatan.

Namun, Al-Ghazali membawa kita melompat lebih jauh. Bagi beliau, ada cahaya yang jauh lebih sejati, lebih benderang, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Cahaya itu bernama Akal atau Mata Batin.

Mengapa akal layak disebut sebagai cahaya sejati yang mengalahkan mata lahir? Ada beberapa alasan filosofis sekaligus logis yang relevan dengan kehidupan kita hari ini.

1. Mata Sering Tertipu, Akal Menghadirkan Validasi

Pernahkah Anda melihat fatamorgana di jalan aspal yang panas? Atau melihat sendok yang tampak bengkok saat dimasukkan ke dalam gelas berisi air? Itu adalah bukti konkret bahwa mata lahir kita memiliki keterbatasan fisik. Mata bisa salah lihat.

Di sinilah akal bekerja sebagai “cahaya penuntun.” Akal tidak bisa ditipu oleh ilusi-ilusi optik tersebut.

Ketika mata mengatakan “ada air di depan sana,” akal dengan penalarannya yang valid akan mengoreksi, “Bukan, itu hanya pantulan cahaya matahari akibat perbedaan suhu udara.” Akal meluruskan kesalahan yang dibawa oleh indra kita.