Sufi kontroversial Jawa abad ke-15 ini mengajarkan bahwa Ka’bah sejati bukan hanya monumen di Jazirah Arab — melainkan rahasia yang tersimpan di kedalaman jiwa manusia.
KOSONGSATU.ID — Di antara tokoh-tokoh dalam sejarah Islam Nusantara, Syekh Siti Jenar — yang juga dikenal dengan nama Syekh Abdul Jalil, Syekh Lemah Abang, dan sejumlah gelar lainnya — menempati posisi yang paling sulit didefinisikan.
Ia bukan sekadar ulama atau sufi biasa. Menurut kajian sejarawan Agus Sunyoto, yang menelaah sekitar 300 naskah kuno untuk merekonstruksi riwayatnya, Syekh Siti Jenar adalah sosok yang identitasnya hingga kini masih diselimuti misteri — campuran antara fakta historis dan lapisan legenda yang sulit dipisahkan.
Ia diperkirakan hidup pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16 Masehi, wafat sekitar 1517 M. Pemikirannya — terutama konsep Manunggaling Kawula Gusti (menyatunya hamba dengan Tuhan) — dianggap sangat liberal oleh arus utama keagamaan pada zamannya, hingga berbenturan dengan otoritas Wali Songo dan Kerajaan Demak Bintara.
Namun, justru di tengah kontroversi itulah, sebagian ajarannya tentang kedalaman ibadah tetap hidup dan relevan. Termasuk tafsirnya tentang ibadah haji.
Haji sebagai Manifestasi Syahadat
Menurut Achmad Chodjim dalam seri bukunya tentang Syekh Siti Jenar — salah satu kajian paling komprehensif dalam bahasa Indonesia — sang sufi memaknai pertemuan jutaan Muslim di Ka’bah sebagai manifestasi konkret dari syahadat tauhid.
Ketika kaum Muslimin dari berbagai penjuru bumi berkumpul di satu titik, itulah pengakuan kolektif atas keesaan Tuhan dan kebenaran ajaran Nabi Muhammad Saw. Setiap rukun yang dijalani, dalam pandangan ini, adalah pernyataan kehendak hamba yang disatukan secara total kepada Sang Pencipta.
Namun, pemikiran Syekh Siti Jenar tidak berhenti pada dimensi ritual itu. Ia justru mengkritik keras mereka yang memaknai haji sebatas perjalanan fisik yang ditopang kekayaan materi — tanpa bekal spiritual yang memadai.
“Dalam ajarannya, Siti Jenar mengarahkan agar seseorang mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas,” demikian dikutip dari kajian Manunggaling Kawula Gusti
Suluk Wijil dan Hakikat Makkah
Dalam tradisi sufistik Islam Jawa, teks Suluk Wijil — yang secara akademis merupakan karya Sunan Bonang — menjadi salah satu rujukan untuk memahami gagasan serupa tentang hakikat ibadah. Teks ini mengandung pengajaran bahwa tujuan sejati beribadah bukan untuk menempatkan diri pada posisi Tuhan, melainkan untuk mengenal-Nya melalui pengenalan diri secara mendalam.
Sejalan dengan arus pemikiran itulah, gagasan yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar berkembang: bahwa Makkah yang sejati bukan semata titik geografis di Jazirah Arab, melainkan sesuatu yang bersemayam di dalam jiwa manusia.
Bekal utama untuk mencapai “Makkah” batin itu bukan harta, melainkan keberanian menegakkan kebenaran, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, serta kesabaran dan keikhlasan.
Konsep ini seirama dengan prinsip utama Manunggaling Kawula Gusti — bahwa untuk mencapai kedekatan sejati dengan Tuhan, seseorang harus terlebih dahulu menempuh perjalanan mengolah cipta, rasa, dan karsa. Perjalanan itu jauh lebih berat dari sekadar menempuh rute ke Tanah Suci.
Ka’bah Fisik dan Ka’bah Batin
Syekh Siti Jenar, dalam tafsir yang dikembangkan dari ajarannya, membedakan antara Ka’bah sebagai monumen fisik — yang dibangun Nabi Ibrahim — dan Ka’bah sebagai rahasia yang tersembunyi di kedalaman hati manusia.
Ini bukan penolakan terhadap ibadah haji secara syariat, melainkan penekanan pada dimensi batin yang kerap terabaikan.
Ia mengkritik laku beragama yang menjadi sekadar topeng kesalehan: seseorang yang menunaikan haji tetapi pulang dengan keangkuhan sosial baru — memamerkan gelar “Haji” sebagai penanda status — dipandang justru melewatkan inti perjalanan itu sendiri.
Seorang haji yang mabrur, dalam tafsir ini, adalah mereka yang hatinya bersih dari iri, dengki, dan tamak; yang hidupnya membawa harmoni nyata bagi sesama, bukan sekadar catatan kewajiban yang telah digugurkan.
“Gerakan yang dilakukan Syekh Siti Jenar bersumbu pada pembebasan kultural — pembebasan kemanusiaan dari pasungan keagamaan yang formalistik.” kata Agus Sunyoto, dikutip dalam kajian sejarah Syekh Siti Jenar
Kontroversi yang Perlu Diakui
Penting untuk menempatkan ajaran ini dalam konteks yang jujur. Kajian teologis dari perspektif Ahlussunnah wal Jamaah menegaskan bahwa sejumlah aspek pemikiran Syekh Siti Jenar — terutama kecenderungannya mengesampingkan ibadah formal — bertentangan dengan arus utama Islam Sunni dan ditolak oleh para Wali Songo serta otoritas Kerajaan Demak.
Artinya, tafsir haji yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar tidak dapat dibaca sebagai pandangan Islam Nusantara secara umum. Ia adalah suara dari pinggiran — suara yang menantang, yang mengingatkan tentang dimensi batin ibadah, tetapi yang juga perlu diposisikan secara proporsional dalam kerangka yang lebih luas.
Justru di situlah nilai historis dan kulturalnya terletak: bukan sebagai fatwa, melainkan sebagai cermin yang memantulkan pertanyaan abadi — apakah ibadah kita benar-benar menuju Tuhan, atau hanya menuju pengakuan sesama manusia?
Relevansi di Musim Haji
Setiap musim haji, jutaan Muslim Indonesia kembali menjalani prosesi keberangkatan yang penuh doa dan harapan. Di tengah antusiasme itu, warisan pemikiran sufistik Islam Jawa — termasuk yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar — terus menawarkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah keikhlasan sudah benar-benar menjadi bekal, ataukah ia masih kalah oleh dorongan untuk dilihat dan diakui?
Pemikiran itu bukan untuk menggugurkan kewajiban haji, melainkan untuk mendalamkan maknanya. Makkah di kedalaman hati dan Makkah di Jazirah Arab, dalam tafsir ini, seharusnya bukan dua tujuan yang saling meniadakan — melainkan dua dimensi perjalanan yang harus ditempuh bersama-sama. ***
SUMBER & RUJUKAN
- Chodjim, Achmad. Syekh Siti Jenar: Makna Kehidupan. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002. [Google Books]
- Sunyoto, Agus. Atlas Wali Songo. Depok: Pustaka IIMaN, 2012.
- Sunyoto, Agus. Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syekh Siti Jenar, Buku 1–7. Yogyakarta: LKiS, 2003–2004.
- Derani, S. “Syekh Siti Jenar: Pemikiran dan Ajarannya.” Buletin Al-Turas, Vol. 20, No. 2 (2014). [journal.uinjkt.ac.id]
- Sholikhin, M. Manunggaling Kawula Gusti: Sufisme Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Narasi, 2008.
- Fahrurrozi & Sitorus, N.J. “Ajaran Tarekat Syekh Siti Jenar.” EKHSIS: Jurnal Ekonomi, Syariah dan Studi Islam, 1(1), 2023.
- Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah UNS. “Manunggaling Kawula Gusti: Sufisme Syekh Siti Jenar” (2025). [sejarah.fkip.uns.ac.id]
- Jurnal AL-QIBLAH. “Kontroversi Ajaran Syekh Siti Jenar: Analisis Teologis dan Respons Ulama Aswaja” (2025). [journal.stiba.ac.id]
- Zalikha & Rusmana, D. “Spiritualitas Islam dalam Suluk Wujil karya Sunan Bonang.” Haluan Sastra Budaya. [jurnal.uns.ac.id]
- Harian Merapi. “Sunan Bonang 3: Suluk Wijil Mengungkap Pengenalan Diri Sendiri” (2022). [harianmerapi.com]
- Wikipedia Indonesia. “Raden Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar).” [id.wikipedia.org]
•12.NU Online. “Kearifan Spiritual Syekh Siti Jenar.” [nu.or.id]





Tinggalkan Balasan