Protes sporadis yang meletus di berbagai kota—dari Teheran hingga Isfahan—pada musim dingin 2025 membuktikan bahwa tidak semua rakyat Iran menikmati buah kemandirian yang diproklamirkan rezim. 

Namun, seiring perang berkecamuk, Kepala Polisi Nasional Iran Ahmad-Reza Radan memperingatkan bahwa mereka yang turun ke jalan akan diperlakukan bukan sebagai pengunjuk rasa, tetapi sebagai musuh.

Bab 6: Gencatan Senjata dan Jalan ke Depan

Pada 7 April 2026, dunia menarik napas lega. Trump, yang sebelumnya mengancam “sebuah peradaban utuh akan mati malam ini” , membatalkan serangan besar-besaran setelah mediasi intensif dari Pakistan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi kesepakatan tentatif: “Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kuat kami akan menghentikan operasi pertahanan mereka. Untuk periode dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis.”

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga mengisyaratkan bahwa gencatan senjata dapat diperpanjang di luar dua minggu awal jika negosiasi berjalan dengan baik .

Trump mengklaim telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan meyakininya sebagai “dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi”.

Pelajaran untuk Bangsa-Bangsa yang Merdeka

Terlepas dari kontroversi politik internalnya, Iran memberi satu pelajaran berharga: embargo tidak selalu berhasil melumpuhkan sebuah bangsa yang memiliki kapasitas intelektual dan kemauan kolektif untuk bertahan.

Mereka tidak memiliki sekutu superpower, tidak dijaga pakta pertahanan NATO, dan tidak dilindungi payung nuklir. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan bahwa martabat sebuah bangsa tidak bisa diukur dari seberapa ramah mereka kepada asing, tetapi seberapa teguh mereka berdiri di atas kaki sendiri.

Kini, setelah gencatan senjata dua minggu disepakati pada 7 April 2026, Iran kembali menghadapi persimpangan. Apakah mereka akan membuka pintu dialog dan menarik napas lega, atau justru memanfaatkan jeda untuk memperkuat benteng pertahanan?