Pelajaran untuk Lima Tahun ke Depan

Kalau pemerintahan ini mau bertahan bukan cuma di atas euforia awal, tapi juga di atas kepercayaan jangka panjang, tiga hal harus jadi fokus.

Pertama, transparansi, bukan sekadar pencitraan. Angka kepuasan bagus, tapi kalau data anggaran dan evaluasi program tak dibuka, publik cepat jenuh. Kepercayaan tumbuh dari kejujuran.

Kedua, realisasi janji yang konkret dan terukur. Rakyat tidak minta semua disulap dalam setahun, tapi mereka butuh bukti: sekolah gratis yang nyata, pangan bergizi yang sampai ke meja, bukan sekadar slogan di podium. Dan ketiga, efisiensi tanpa mengorbankan demokrasi.

Pemerintahan yang efektif boleh tegas, tapi jangan menutup telinga dari masyarakat sipil dan media. Kritik itu vitamin, bukan ancaman.

Awal pemerintahan Prabowo-Gibran bisa dibilang “cerah dengan awan di kejauhan.” Publik masih percaya, tapi tanda-tanda waspada mulai muncul.

Citra kuat memang penting, tapi yang lebih penting adalah substansi yang konsisten—transparan, partisipatif, dan berpihak pada rakyat kecil.

Kalau tiga hal itu dijaga, lima tahun ke depan bisa jadi periode emas.

Tapi kalau tidak, kepuasan publik hari ini bisa berubah jadi kekecewaan kolektif esok.***