Indonesia dan AS sepakat tarif 0 persen ribuan produk lewat ART 2026.


KOSONGSATU.ID—Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi meneken Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS.

Perjanjian tarif resiprokal itu ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.

Pengumuman dilakukan dalam konferensi pers oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani, serta Duta Besar RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo pada Jumat, 20 Februari 2026 WIB.

Airlangga menyebut dalam beberapa hari terakhir pemerintah menuntaskan 11 kesepakatan ekonomi. Termasuk perpanjangan kerja sama Freeport periode 2041–2061 dan kontrak pembelian jagung, kapas, furnitur, serta minyak.

“Perjanjian ini bagian dari penguatan kerja sama ekonomi kedua negara untuk mendorong pertumbuhan dan stabilitas rantai pasok,” ujar Airlangga.

Ia menjelaskan pembicaraan kedua kepala negara berlangsung sekitar 30 menit sebelum dokumen final disahkan bersama lampiran teknis.

Kesepakatan ini juga membentuk Council of Trade and Investment. Forum bilateral itu akan membahas persoalan investasi dan perdagangan bila muncul ketidakseimbangan atau kenaikan tarif yang dinilai terlalu tinggi.

Tujuan utamanya, kata Airlangga, menciptakan kemakmuran bersama dan memperkuat rantai pasok global dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Negosiasi Sejak April 2025

Airlangga mengungkapkan proses negosiasi dimulai sejak pengumuman Presiden Trump pada 2 April 2025.

Indonesia mengirim empat surat resmi pada April, Juni, Juli, dan Agustus 2025. Delegasi juga melakukan empat kunjungan ke Washington DC dan menjalani tujuh putaran perundingan.

Selain itu, lebih dari sembilan pertemuan langsung maupun virtual digelar dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

“Hampir 90 persen dokumen yang kami ajukan dipenuhi pihak Amerika Serikat,” kata Airlangga.

Dalam ART tercantum 1.819 pos tarif produk Indonesia dari sektor pertanian dan industri yang memperoleh tarif 0 persen.

Produk tersebut meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat.

Untuk tekstil dan apparel, AS memberikan tarif 0 persen melalui mekanisme tariff rate quota.

Airlangga menilai kebijakan ini berpotensi memberi manfaat bagi sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil, atau sekitar 20 juta masyarakat jika dihitung bersama keluarganya.

Sebaliknya, Indonesia memberi tarif 0 persen bagi sejumlah produk pertanian AS seperti gandum dan kedelai.

Kebijakan itu dinilai membantu menjaga harga bahan pangan domestik seperti tahu dan tempe.

Kedua negara juga sepakat tidak mengenakan bea masuk pada transaksi elektronik sesuai posisi di forum WTO.

Indonesia mendorong transfer data lintas batas secara terbatas sesuai aturan nasional dan menegaskan perlindungan data konsumen yang setara.

Pemerintah juga berkomitmen memberi kemudahan perizinan impor dan mengurangi hambatan tarif maupun non-tarif di sektor ICT, kesehatan, dan farmasi.

Paket Energi dan Boeing

Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani menyatakan kerja sama ini mencakup rencana pembelian sekitar 50 pesawat Boeing.

Pembahasan teknis akan dilakukan pada tahap lanjutan.

Selain itu, terdapat kesepakatan impor minyak dan gas dari AS senilai sekitar USD 15 miliar per tahun.

Pemerintah juga membuka peluang investasi tambahan, termasuk pembangunan jaringan pipa energi dan proyek strategis lain yang melibatkan Danantara.

Rosan menyebut adanya nota kesepahaman dengan Freeport yang membuka peluang peningkatan investasi sekitar USD 20 miliar dalam 20 tahun ke depan.

Tambahan investasi itu dinilai dapat meningkatkan produksi dan memperkuat penerimaan pajak negara.

Airlangga menegaskan penandatanganan langsung oleh kedua kepala negara menunjukkan eratnya hubungan Indonesia dan AS.

Menurutnya, banyak perjanjian serupa di negara lain hanya ditandatangani di level menteri.

“ART ini berada pada tingkat kepala negara dan mencakup perdagangan sekaligus investasi,” ujarnya.

Implementasi dan Ratifikasi

Dwisuryo Indroyono Soesilo memastikan implementasi ART akan dikawal perwakilan Indonesia di berbagai kota di AS.

KBRI Washington DC memimpin koordinasi. Konsulat di Los Angeles, San Francisco, Chicago, Houston, dan New York menangani sektor pertambangan, digital, pangan, energi, serta perdagangan dan investasi.

Perjanjian akan berlaku sekitar 90 hari setelah seluruh proses hukum selesai di masing-masing negara, termasuk pembahasan dengan DPR RI.

Pemerintah berencana segera menyampaikan dokumen resmi kepada DPR sebagai bagian dari proses ratifikasi menuju target pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia Emas. ***