Penulis Ray Dalio menilai konflik AS-Iran di Selat Hormuz jadi titik balik penentu nasib hegemoni Amerika Serikat di mata dunia.
KOSONGSATU. ID – Penulis sekaligus investor kawakan, Ray Dalio, memandang konflik Amerika Serikat dengan Iran bukan sekadar perang biasa. Ia menyebut perseteruan ini sebagai titik balik sejarah yang akan menguji kelayakan AS sebagai pemimpin dunia.
Selat Hormuz: Titik Penentu Kemenangan Mutlak
Dalam pandangan Dalio, kemenangan AS hanya bergantung pada satu indikator utama: siapa yang mengendalikan Selat Hormuz. Jika Washington gagal mengamankan lalu lintas kapal dagang di jalur tersebut, dunia akan menganggap AS kalah perang.
Dalio menyamakan potensi kegagalan AS di Hormuz ini dengan Krisis Suez pada tahun 1956. Saat itu, krisis tersebut mengakhiri masa kejayaan Inggris Raya. Oleh karena itu, kekalahan di Hormuz akan mengirimkan sinyal kuat bahwa Amerika tidak lagi memiliki kemampuan untuk memaksakan tatanan global.
Adu Ketahanan: Taktik Iran dan Kredibilitas Trump
Selanjutnya, konflik ini bergeser menjadi arena adu ketahanan antara tekanan ekonomi dan kesiapan mengorbankan nyawa. Iran menerapkan strategi perang berlarut-larut. Teheran bertaruh bahwa masyarakat Amerika akan segera lelah menghadapi lonjakan harga bensin dan jatuhnya korban jiwa dari pihak militer jika perang berlangsung lama.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump telah mempertaruhkan seluruh kredibilitasnya melalui retorika keras seperti “Api dan Amarah” yang kerap ia lontarkan. Jika AS gagal membuktikan ketegasannya di lapangan, sekutu-sekutu global kemungkinan besar akan mulai menjauh dan meninggalkan aliansi mereka bersama Amerika Serikat.
Ancaman Hukum “Siklus Besar” Terhadap Dolar AS
Lebih jauh, Dalio menempatkan konflik geopolitik ini dalam bingkai hukum “Siklus Besar” (The Big Cycle). Teori ini menyoroti pola sejarah selama 500 tahun terakhir, di mana sebuah kekaisaran raksasa biasanya runtuh akibat tiga hal utama:
- Menanggung beban utang yang terlalu besar sehingga finansial melemah.
- Terlibat terlalu banyak perang yang membuat militer kewalahan.
- Kalah dalam pertempuran memperebutkan rute perdagangan kritis.
Jika AS kehilangan kendali atas Selat Hormuz, dampak ekonominya akan sangat fatal. Kepercayaan global terhadap Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia dipastikan anjlok. Akibatnya, para investor akan berbondong-bondong memindahkan kekayaan mereka ke aset yang lebih aman, seperti emas. Dunia pun akan menyaksikan pergeseran kekuasaan besar-besaran ke pihak pemenang. Namun sebaliknya, jika AS menang mutlak, dominasi mereka akan terus bertahan kuat selama beberapa tahun ke depan.
Pada akhirnya, krisis di Selat Hormuz bukan hanya soal adu kekuatan militer militer antara dua negara. Perseteruan ini adalah ujian akhir bagi ketahanan ekonomi dan pengaruh politik Amerika Serikat. Sejarah sedang mencatat apakah AS mampu mempertahankan takhtanya, atau justru menyerah pada hukum siklus besar yang tak terhindarkan.***



Tinggalkan Balasan