​Ihwal pemanfaatannya dalam jangka panjang, kimpul masih menghadapi sejumlah tantangan. Lailatul memperkirakan tren konsumsi kimpul berisiko hilang apabila tidak ada dorongan yang membangun perilaku konsumsi berulang di tengah masyarakat.

​”Tantangan diversifikasi pangan kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi,” ujarnya.

​Mengubah Tren Menjadi Kebiasaan

​Untuk menjaga keberlanjutan konsumsi kimpul, Lailatul menilai butuh strategi khusus agar produk olahannya mudah diterima oleh generasi milenial hingga generasi alfa. Langkah nyata dari pemerintah, akademisi, serta pelaku usaha sangat diperlukan.

​Pemerintah, lanjut dia, perlu menjamin kelancaran produksi, distribusi, dan memasukkan pangan lokal ini ke dalam program resmi. Sementara itu, pelaku usaha didorong menciptakan produk berbahan kimpul yang ramah di lidah konsumen awam.

​Dari sisi riset, para akademisi memegang peran penting dalam meneliti sekaligus menyediakan bukti gizi serta standar keamanan produk.

​”Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasan, seperti peran pemerintah untuk menjamin produksi, distribusi, harga, dan memasukkan pangan lokal dalam program pangan,” tutur Lailatul.***