
Ketika Kritik Melemah
Yang paling berbahaya, kata Marcuse, adalah hilangnya ruang untuk berpikir alternatif. Karena semua orang merasa cukup nyaman dengan gaji bulanan, belanja daring, atau hiburan 24 jam, maka semangat untuk mengkritik atau mencari sistem sosial yang lebih adil melemah.
Bahkan seni dan budaya yang seharusnya mengguncang dan membebaskan, kini lebih sering dijadikan produk industri. Lagu-lagu protes bisa masuk playlist komersial, film independen bisa ditelan oleh festival sponsor korporasi. Kritik yang tajam pun akhirnya dilembutkan agar tetap bisa dijual.
Ilusi Kebebasan
Kebebasan yang kita rasakan hari ini, kata Marcuse, sebenarnya hanyalah ilusi. Kita bisa memilih apa pun, tapi semua pilihan itu sudah disiapkan oleh pasar. Kita boleh memilih “A atau B”, tapi tidak pernah “di luar A dan B”.
Itulah yang disebut manusia satu dimensi: manusia yang puas dengan pilihan sempit yang tersedia, tanpa pernah membayangkan kemungkinan hidup yang berbeda sama sekali.
Masih Adakah Jalan Keluar?
Meski terdengar suram, Marcuse tetap percaya ada celah untuk perlawanan. Harapan itu justru datang dari mereka yang berada di pinggiran sistem: kaum muda, kelompok minoritas, seniman radikal, atau siapa pun yang berani membayangkan dunia lain di luar aturan kapitalisme dan teknokrasi.
Mereka yang masih punya imajinasi radikal—yang berani membayangkan hidup lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih merdeka—itulah yang bisa mematahkan belenggu “satu dimensi”.
Konsep “manusia satu dimensi” mengingatkan kita bahwa tidak semua kenyamanan itu tanda kebebasan. Justru, kadang kenyamananlah yang membuat kita terlena dan kehilangan daya kritis.
Pertanyaan yang paling “mengena” untuk kita hari ini adalah: apakah kita benar-benar bebas, atau hanya sedang menjadi manusia satu dimensi yang jinak dan puas dengan kebutuhan palsu?***




Tinggalkan Balasan