Tulisan ini menelusuri riwayat Haji Abdul Mu’thi, tokoh pembaruan Islam Madiun dan guru spiritual Bung Karno yang teguh memegang prinsip.


KOSONGSATU. ID– Dalam lembaran sejarah pergerakan Islam di Indonesia, nama Abdul Mu’thi sering kali memunculkan asosiasi pada tokoh-tokoh kontemporer. Namun, jauh sebelum era modern, terdapat seorang ulama visioner dengan nama serupa yang menjadi pilar penting dakwah di wilayah Karesidenan Madiun. Beliau adalah Kiai Haji Abdul Mu’thi, sosok “Konsul” yang memimpin gerak langkah Muhammadiyah di Madiun pada masa-masa awal pertumbuhannya.

Kisah hidupnya bukan sekadar catatan biografi organisasi, melainkan cermin keteguhan seorang sahabat yang berani berkata “tidak” kepada Presiden Soekarno demi menjaga integritas iman.

Pendidikan Dua Dunia: Barat dan Timur Tengah

Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1889, Abdul Mu’thi tumbuh sebagai sosok yang unik. Ia adalah representasi langka dari santri yang “melek” dua dunia. Di satu sisi, ia mengenyam pendidikan di sekolah menengah Belanda, memberinya kemampuan bahasa dan logika modern yang tajam. Di sisi lain, dahaga spiritual membawanya berkelana dari pesantren ke pesantren di Jawa Timur.

Puncak perjalanan intelektualnya terjadi pada tahun 1914. Di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, Abdul Mu’thi muda nekat berangkat ke Mesir. Di Negeri Piramida itu, ia menyerap langsung semangat pembaruan Islam yang sedang digelorakan oleh para reformis Timur Tengah, sebuah bekal yang kelak mengubah wajah dakwah di Madiun.

Membangun Madiun sebagai Konsul Muhammadiyah

Sepulangnya ke Tanah Air, karier organisasinya bermula di Kudus sebagai Ketua Cabang pada 1923. Namun, sejarah mencatat tinta emasnya di Madiun. Pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim (Ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah), Abdul Mu’thi dipercaya menjadi Konsul Muhammadiyah untuk wilayah Madiun (1923-1932).

Sebagai Konsul, ia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Madiun adalah wilayah dengan dinamika sosial-politik yang kompleks, tempat bertemunya kaum abangan, santri tradisional, dan benih-benih ideologi kiri. Dengan gaya kepemimpinan yang luwes namun berprinsip, Haji Mu’thi berhasil meletakkan fondasi amal usaha pendidikan dan sosial yang kokoh, menjadikan Muhammadiyah diterima luas di wilayah tersebut.

Sahabat dan Guru Spiritual Bung Karno: Hubungan yang Pasang Surut

Sisi paling menarik dari kehidupan Haji Abdul Mu’thi adalah kedekatannya dengan Ir. Soekarno. Hubungan ini melampaui sekat politik, masuk ke ranah batin yang mendalam.

1. Penasihat Spiritual Menjelang Proklamasi

Dalam catatan sejarah lisan, Haji Abdul Mu’thi Madiun disebut sebagai salah satu dari empat ulama khos (khusus) yang dimintai pertimbangan spiritual oleh Bung Karno menjelang detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI. Bersama Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (Jombang), RMP Sosrokartono (Bandung), dan Syekh Musa (Cianjur), Haji Abdul Mu’thi menjadi tempat Bung Karno berkonsultasi mengenai momentum “saat yang tepat” untuk memerdekakan bangsa. Haji Mu’thi dikenal memiliki ketajaman batin (mukasyafah) yang sangat dihormati oleh Sang Proklamator.

2. Keteguhan Prinsip dan Retaknya Persahabatan

Namun, persahabatan itu diuji hebat ketika memasuki era Demokrasi Terpimpin. Ketika Bung Karno mulai mesra dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui konsep Nasakom, Kiai Abdul Mu’thi tidak tinggal diam. Baginya, akidah tidak bisa ditawar demi politik.

Kritik keras sang Kiai terhadap kebijakan sahabatnya itu harus dibayar mahal. Haji Abdul Mu’thi, yang dulunya adalah guru spiritual yang didengar, terpaksa menjadi “buronan politik” rezim Orde Lama. Ia harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari penangkapan. Sebuah ironi yang menyedihkan: seorang tokoh yang turut membidani kelahiran republik harus bersembunyi dari pemimpin negara yang dulu ia bimbing secara spiritual.

Akhir Hayat Sang Pejuang

Setelah melewati masa-masa turbulensi politik dan mendedikasikan hidupnya untuk umat, Haji Abdul Mu’thi wafat pada hari Senin, 20 September 1976, di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta, pada usia 78 tahun.

Meski sempat tersisih dari panggung kekuasaan, warisannya tetap hidup. Ia dikenang bukan karena jabatannya, melainkan karena keberaniannya. Ia adalah bukti bahwa ulama sejati tidak silau oleh cahaya istana dan tetap setia pada kebenaran walau harus berdiri sendirian.

Mengenang Kiai Abdul Mu’thi Madiun adalah mengenang keberanian moral. Kisahnya mengajarkan kita bahwa loyalitas tertinggi seorang ulama bukanlah kepada penguasa atau sahabat karib, melainkan kepada nilai-nilai kebenaran yang diyakininya.***


Sumber:
  • Mu’arif. (2020). Jejak Persyarikatan: Abdul Mu’thi, Konsul Muhammadiyah Madiun. Suara Muhammadiyah.
  • Arsip Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur. Wawancara Sejarah Lisan Tokoh Muhammadiyah Madiun.
  • Ensiklopedia Tokoh Muhammadiyah.