Serangan AS dan Israel ke Iran gagal total karena Doktrin Mosaik IRGC yang mendesentralisasi komando pertahanan militer.


KOSONGSATU. ID – ​Washington dan Tel Aviv melakukan kesalahan kalkulasi yang fatal pada serangan 28 Februari lalu. Mereka berasumsi bahwa rezim di Teheran sama rapuhnya dengan target-target Timur Tengah masa lalu seperti Irak atau Libya.

Faktanya, Iran memutarbalikkan keadaan. Mereka mengadopsi strategi desentralisasi ekstrem yang membuat intervensi militer kilat dan taktik pembunuhan tokoh kunci menjadi tidak relevan.

Iran tidak hanya bertahan; mereka secara sistematis membuat Amerika Serikat membayar harga geopolitik yang sangat mahal, dimulai dari hilangnya kendali AS di Irak.

​Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan masif terhadap Iran. Target mereka sangat jelas dan mengulang pola lama: membunuh pemimpin tertinggi, menghancurkan struktur komando pusat, lalu menunggu rezim tersebut runtuh dari dalam.

Strategi “pemenggalan kepala” atau decapitation strike ini bertumpu pada harapan bahwa kekosongan kekuasaan akan memicu pergolakan masyarakat untuk mengambil alih kendali.

​Washington punya alasan kuat mempercayai taktik ini. Model serupa sukses menggulingkan Saddam Hussein di Irak dan Muammar Gaddafi di Libya. Suriah dan Venezuela pun hampir runtuh lewat tekanan serupa.

Namun, ketika AS dan Israel menerapkan cetak biru yang sama terhadap Iran, skenario tersebut gagal total.

​Mengapa? Jawabannya sederhana: Iran menjadikan invasi Amerika selama dua dekade terakhir sebagai buku teks pertahanan mereka.

​Evaluasi Taktik Musuh dan Lahirnya Doktrin Mosaik

​Ketika militer AS menghancurkan Irak dan mengobrak-abrik Libya, para ahli strategi Iran mencatat setiap detail manuver Washington. Jenderal Mohammad Ali Jafari, tokoh kunci di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menemukan satu pola kelemahan yang konsisten: Amerika selalu mengincar rezim yang terpusat.

Begitu pusat komando hancur, seluruh infrastruktur militer negara tersebut lumpuh.