Leluhur Jawa sudah tahu kapan waktu terbaik menebang pohon—dan sains modern membuktikan mereka tidak salah.
KOSONGSATU.ID — Bayangkan: sebuah peradaban yang menentukan jadwal tebang pohon bukan berdasarkan kuota pasar, melainkan berdasarkan kapan jangkrik mulai bernyanyi. Itulah Brubuh.
Dan sains kini membuktikan logikanya jauh lebih solid dari yang kita sangka.
Membaca Alam Seperti Membaca Jam
Brubuh adalah sistem penebangan kayu tradisional Jawa yang berpijak pada kalender ekologis Pranata Mangsa—sistem penanggalan berbasis peredaran matahari yang terbagi dalam 12 periode (mangsa).
Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, Surono, M.A., menjelaskan bahwa jendela ideal Brubuh jatuh pada mangsa tuwa (musim tua): tiga fase berturut-turut antara Maret hingga pertengahan Mei. Setiap fase punya penanda biologis spesifik yang bisa dibaca tanpa instrumen apa pun.
Saat mangsa Kasanga (1–25 Maret), padi mulai berbunga dan jangkrik mulai bernyanyi. Kasadasa (26 Maret–18 April) ditandai padi menguning dan telur burung menetas. Pada mangsa Dhesta (19 April–11 Mei), induk burung terlihat menyuapi anak-anaknya dan buah randu mulai mekar. Inilah alarm alami yang menjadi sinyal tebang.
Ketika Lignin Menjadi Kuncinya
Di sinilah Ilmu Titen leluhur bertemu dengan biokimia modern. Surono mengungkapkan, kayu dan bambu yang ditebang pada mangsa tuwa memiliki kadar lignin paling rendah—senyawa polimer yang memperkaku dinding sel tanaman.
Kadar lignin rendah menghasilkan serat kayu yang lebih lentur, kekuatan maksimal, dan ketahanan alami terhadap serangan serangga perusak. Validasi ini dikonfirmasi oleh riset kimia kayu dari IPB dan LIPI: komposisi lignin secara langsung menentukan sifat mekanik dan ketahanan material berbasis kayu.
Artinya, nenek moyang kita tidak sekadar “menduga-duga”—mereka telah mengembangkan protokol pemanenan yang mengoptimalkan kualitas material secara kimiawi, jauh sebelum ada laboratorium.

Perisai Terakhir dari Deforestasi
Dampak ekologis Brubuh melampaui kualitas material. Kayu yang awet berarti masyarakat tidak perlu terus-menerus merambah hutan untuk mencari pengganti. Surono menegaskan, sistem ini memberi ekosistem hutan waktu lebih panjang untuk memulihkan diri—sebuah mekanisme krusial dalam penyerapan karbon dan perlambatan pemanasan global.
Riset etnosains yang diterbitkan dalam jurnal UGM (2024) bahkan menemukan bahwa Pranata Mangsa memiliki tingkat keakuratan 83,3% ketika diuji terhadap data iklim BMKG tahun 2023. Sistem ini bukan mitos—ia adalah meteorologi berbasis observasi jangka panjang.
Terancam, Terlupakan
Namun tradisi ini kini berada di ambang kepunahan. Nafsu eksploitasi dan alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan urban memutus rantai transmisi pengetahuan ini dari generasi ke generasi. Dari penelitian Surono, Brubuh kini hanya masih diterapkan di segelintir wilayah: desa-desa sekitar Kecamatan Bayat, Klaten, dan Dusun Bragasan, Trihanggo, Sleman.
Menghidupkan kembali filosofi Brubuh bukan nostalgia. Di era krisis iklim, ini adalah pilihan strategis: mengadopsi prinsip keberlanjutan yang telah terbukti selama berabad-abad agar bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang. Mulailah dari mengenalnya—sebelum pengetahuan ini benar-benar musnah. ***
Rujukan Utama:
- (2015). Pemaparan Hasil Penelitian Sistem Penebangan Tradisional Brubuh. Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. (Pernyataan pers/wawancara di kampus UGM, Kamis, 5 Februari).





Tinggalkan Balasan